Selasa, 20 Desember 2011

I. FORMULA ASLI
Salep mata Tetrasiklin
II. RANCANGAN FORMULA
Tiap 3,5 g salep mata mengandung :
Tetrasiklin HCl 1%
Klorobutanol 0,5%
Alfa Tokoferol 0,05%
Basis ad 100%
-Parafin cair 10%
-Lanolin anhidrat 10%
-Vaselin kuning 80%
III. MASTER FORMULA
Nama Produk : Tetralin® Salep Mata
Jumlah Produk : 1 tube @ 3,5 g
Tanggal Formulasi : 03 Februari 2009
Tanggal Produksi : 02 Maret 2009
No. Registrasi : DKL 0900400131 A1
No. Batch : J 09035301







PT. DUA FARMA
Tusklin ® Salep Mata
Tanggal Formulasi:
03 Februari 2009 Tanggal Produksi:
02 Maret 2009 Dibuat oleh:
Kelompok II Disetujui oleh:
Eka Gusnawati
Kode Bahan Nama Bahan Kegunaan Per Batch
TH – 01
KB – 02
AT – 03
PC – 04
LA – 05
VK – 06 Tetrasiklin HCl
Klorobutanol
Alfa tokoferol
Parafin Cair
Lanolin anhidrat
Vaselin kuning Zat aktif
Pengawet
Antioksidan
Basis
Basis
Basis 35 mg
17,5 mg
1,75 mg
344,03 mg
378,43 mg
3027,49 mg








BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Mata adalah organ untuk melihat. Bola mata terletak dalam lubang tengkorak dan dialasi oleh lemak dan jaringan penghubung. Bagian anterior terpapar dan terdiri dari kornea yang transparan, sklera yang opak dan membran konjungtiva. Bola mata dilindungi oleh kelopak mata dan alis.(1)
Sediaan mata sama dengan produk steril lainnya dalam hal kekarakteristikan, kesterilan, dan bebas dari bahan partikulat. Dengan pengecualian dari sejumlah injeksi mata, bentuk topikal untuk mata yang digunakan untuk efek lokal dan untuk itu tidak perlu bebas pirogen. (2)
Jika satu batasan pertimbangan dan mekanisme pertahanan mata, bahwa sediaan mata harus steril. Air mata, kecuali darah, tidak mengandung antibodi atau mekanisme untuk memproduksinya. Oleh karena itu, mekanisme pertahanan utama melawan infeksi mata secara sederhana aksi pertahanan oleh air mata, dan sebuah enzim ditemukan dalam air mata (lisozim) dimana mempunyai kemampuan untuk menghidrolisa polisakarida dari beberapa organisme ini. Organisme ini tidak dipengaruhi oleh lisozim. Satu yang paling mungkin yang menyebabkan kerusakan mata adalah Pseudomonas aeruginosa (Bacillus pyocyaneus). (3)
Salep mata (oculenta) adalah salep steril untuk pengobatan mata menggunakan dasar salep yang cocok. Pembuatan bahan obat ditambahkan sebagai larutan steril atau serbuk steril termikronisasi pada dasar salep steril. Hasil akhir dimasukkan secara aseptik ke dalam tube steril. (4)
Salep mata memberikan keuntungan dimana waktu kontaknya lebih lama dan bioavailabilitas total lebih besar meskipun dengan onset yang lebih lambat dan waktu untuk mencapai puncak absorpsi lebih lama dan disamping itu juga salepmata memiliki cakupan tempat kerja yang lebih luas bila dibandingkan dengan tetes mata yaitu kelopak mata, kelenjar sebasea, konjungtiva, kornea dan iris.. (5)

I.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
I.2.1 Maksud Percobaan
Mengetahui dan memahami cara pembuatan salep mata steril.
I.2.2 Tujuan Percobaan
Membuat sediaan salep mata steril Tetrasiklin HCl.
I.3 Prinsip Percobaan
Pembuatan salep mata steril Tetrasiklin HCl dengan menggunakan alat dan bahan yang telah disterilkan dengan cara yang sesuai dan dalam kondisi aseptis.



II.1.5 Metode-metode Sterilisasi
A. Sterilisasi Secara Fisika
1. Pemanasan Kering
a. Udara Panas Oven (Scoville’s : 404)
Bahan yang karena karakteristik fisikanya tidak dapat disterilisasi dengan uap destilasi dalam udara panas-oven. Yang termasuk dalam bahan ini adalah minyak lemak, parafin, petrolatum cair, gliserin, propilen glikol. Serbuk steril seperti talk, kaolin dan ZnO, dan beberapa obat yang lain. Sebagai tambahan sterilisasi panas kering adalah metode yang paling efektif untuk alat-alat gelas dan banyak alat-alat bedah.
Ini harus ditekankan bahwa minyak lemak, petrolatum, serbuk kering dan bahan yang sama tidak dapat disterilisasi dalam autoklaf. Salah satu elemen penting dalam sterilisasi dengan menggunakan uap aotoklaf. Atau dengan adanya lembab dan penembusannya ke dalam bahan yang telah disterilkan. Sebagai contoh, organisme pembentuk spora dalam medium anhidrat tidak dibunuh oleh suhu sampai 121oC (suhu yang biasanya digunakan dalam autoklaf bahkan setelah pemanasan sampai 45 menit). Untuk alasan ini, autoklaf merupakan metode yang tidak cocok untuk mensterilkan minyak, produk yang dibuat dengan basis minyak, atau bahan-bahan lain yang mempunyai sedikit lembab atau tidak sama sekali.
Selama pemanasan kering, mikroorganisme dibunuh oleh proses oksidasi. Ini berlawanan dengan penyebab kematian oleh koagulasi protein pada sel bakteri yang terjadi dengan sterilisasi uap panas. Pada umumnya suhu yang lebih tinggi dan waktu pemaparan yang dibutuhkan saat proses dilakukan dengan uap di bawah tekanan. Saat sterilisasi di bawah uap panas dipaparkan pada suhu 1210 C selama 12 menit adalah efektif. Sterilisasi panas kering membutuhkan pemaparan pada suhu 1500 C sampai 1700 C selama 1-4 jam.
Suhu yang biasa digunakan pada sterilisasi panas kering 1600 C paling cepat 1 jam, tapi lebih baik 2 jam. Suhu ini digunakan secara khusus untuk sterilisasi minyak lemak atau cairan anhidrat lainnya. Bagaimanapun juga range 1500-1700 C digunakan untuk streilisasi panas kering dan lain-lain, sebagai contoh : bahan-bahan gelas, dapat disterilkan pada suhu 1700C. Dimana beberapa serbuk seperti sulfonilamid harus disterilkan pada suhu rendah dan waktu yang lebih lama.
b. Minyak dan penangas lain (Scoville’s : 404)
Bahan kimia yang stabil dalam ampul bersegel dapat disterilisasi dengan mencelupkannya, dalam penangas yang berisi minyak mineral pada suhu 1620C. larutan jenuh panas dari natrium atau amonia klorida dapat juga digunakan sebagai pensterilisasi. Ini merupakan metode yang mensterilisasi alat-alat bedah. Minyak dikatakan bereaksi sebagai lubrikan, untuk menjaga alat tetap tajam, dan untuk memelihara cat penutup.


c. Pemijaran langsung (Scoville’s : 404)
Pemijaran langsung digunakan untuk mensterilkan spatula logam, batang gelas, filter logam bekerfield dan filter bakteri lainnya. Mulut botol, vial, dan labu ukur, gunting, jarum logam dan kawat, dan alat-alat lain yang tidak hancur dengan pemijaran langsung. Papan salep, lumpang dan alu dapat disterilisasi dengan metode ini. Dalam semua kasus bagian yang paling kuat 20 detik. Dalam keadaan darurat ampul dapat disterilisasi dengan memposisikan bagian leher ampul kearah bawah lubang kawat keranjang dan dipijarkan langsung dengan api dengan hati-hati. Setelah pendinginan, ampul harus segera diisi dan disegel.
2. Cara Bukan Panas
Sinar ultraviolet (Lachman : 628)
Sinar ultraviolet umumnya digunakan untuk membantu mengurangi kontaminasi di udara dan pemusnahan selama proses di lingkungan. Sinar yang bersifat membunuh mikroorganisme (germisida) diproduksi oleh lampu kabut merkuri yang dipancarkan secara eksklusif pada 2537 . sinar UV menembus udara bersih dan air murni dengan baik, tetapi suatu penambahan garam atau bahan tersuspensi dalam air atau udara menyebabakan penurunan derajat penetrasi dengan cepat. Untuk kebanyakan pemakaian lama penetrasi dihindarkan dan setiap tindakan membunuh mikroorganisme dibatasi pada permukaan yang dipaparkan.


Aksi letal (Lachman : 628)
Ketika sinar UV melewati bahan, energi bebas ke elektron orbital dalam atom-atom dan mengubah kereaktivannya. Absorpsi energi ini menyebabkan meningginya keadaan tertinggi atom-atom dan mengubah kereaktivannya. Ketika eksitasi dan perubahan aktivitas atom-atom utama terjadi dalam molekul-molekul mikroorganisme atau metabolit utamnya, organisme itu mati atau tidak dapat berproduksi. Pengaruh utamanya mungkin pada asam nukleat sel, yang diperhatikan untuk menunjukkan lapisan absorpsi kuat dalam rentang gelombang UV yang panjang.
Radiasi pengion (Lachman : 628)
Radiasi pengion adalah energi tinggi yang terpancar dari radiasi isotop radioaktif seperti kobalt-60 (sinar gamma) atau yang dihasilkan oleh percepatan mekanis elektron sampai ke kecepatan den energi tinggi (sinar katode, sinar beta). Sinar gamma mempunyai keuntungan mutlak karena tidak menyebabkan kerusakan mekanik, namun demikian, kekurangan sinar ini adalah di hentikan dari, mekanik elektron akselerasi (yang dipercepat) keuntungan elektron yang dipercepat adalah kemampuannya memberikan output laju doisis yang lebih seragam. Aksi latal radiasi pengionan menghacurkan mikroorganisme dengan menghentikan rep-roduksi sebagai hasil mutasi letal. Mutasi ini disebabkan karena tarnsformasi radiasi menjadi molekul penerima pada sinar x, menurut teori langsung. Mutasi ini dapat disebabkan oleh tindakan tidak langsung, dimana molekul-molekul air diubah menjadi kesatuan yang berenergi tinggi seperti hidrogen dan ion hidroksil.semua ini pada kahirnya, menyebabkan perubahan energi pada asam nukleat dan molekul lain sehingga hilangnya keberadaannya bagi metabolisme molekul sel bakteri.
Penerapan untuk sterilisasi ini (Lachman : 628)
Elektron dipercepat atau sinar gamma dapat digunakan untuk mensterilkan produk-produk pilahan dengan suatu proses berkesinambungan. Kebanyakan prosedur sterilisasi produk lain harus diselenggarakan dalam batch setrilisasi dengan proses berkesinambungan memerlukan pengendalian yang tepat, sehingga tidak ada bagian yang lepas dari keefektifan sterilisasi.
Radiasi Ionisasi (RPS 18 th : 1476)
Radiasi ionisasi digunakan untuk sterilisasi industri untuk alat-alat rumah sakit, vitamin, antibiotik, steroid hormon dan transplantasi tulang dan jaringan dan alat pengobatan seperti alat untuk suntik plastik, jarum, alat beda, tube palstik, pemotong, benang bedah dan cawan Petri. Radiasi ioniasasi dapat menghasilkan perubahan dalam molekul organik yang dapat mempengaruhi kemujaraban sediaan atau dapat menginduksi toksisitas. Radiasi produk juga dapat menghasilakn perubahan warna dan kerapuhan beberapa wadah gelas dan bahan plastik.
Sterilisasi radiasi dapat dilakukan baik dengan radiasi elektromagnetil dan radiasi partikel. Radiasi elektromagnetik dan energi photon, termasuk ultra dari bahan radioaktif seperti kobalt 60 atau sesium 137 adalah yang paling sering digunakan sebagai sumber energi sterilisasi adhesi elektromagnetik. Radiasi partikel atau molekul termasuk daftar partikel yang steril. Satu-satunya sekarang yang digunakan untuk sterilisasi radiasi pada obat-obat rumah sakit dan laboratorium. Bagaimanapun banyak prosedur sterilisasi industri manggunakan radiasi, termasuk penjelasan singkatnya. Beberapa informasi mengenai efek sterilisasi ultraviolet juga dihadirkan.
Prinsip bermuatan negatif sepeti elektron yang berinteraksi langsung dengan bahan menyebabkan ionisasi seperti elektron elektromagnetik menyebabkan ionisasi pada mekanisme yang bervariasi yang menghasilkan perpindahan suatu orbital elektron dengan mekanisme jumlah tertentu dari energi yang ditransfer dalam insiden sinar gamma. Perpindahan elektron ini kemudian bentindak sebagai partikel beta dalam reduksi. Oleh sebab itu baik partikel maupun elektromagnetik, dipertimbangkan sebagai radiasi ionisasi yang berbeda dengan radiasi sinar ultraviolet.
Kerugian penggunaan germisida radiasi sinar UV adalah penetrasinya terbatas, pada panjang gelombang 253,7 nm, diserap oleh banyak bahan dan membuat penggumpalan organisme dan hal tersebut dilindungi oleh debu dan puing-puing. Untuk menghindari aksi letal panggunaan radiasi sinar UV sebagai cara sterilisasi tidak direkomendasikan lemak jika bahan-bahan yang diradiasi sangat bersih dan bebas yang dapat melindungi mikroorganisme.

3. Uap Panas
A. Uap bertekanan
Penggunanaan uap bertekanan atau metode sterilisasi yang paling umum memuaskan dan efektif yang ada. Ini adalah metode yang diinginkan untuk sterilisasi larutan yang ditujukan untuk infeksi pada tubuh, pembawa pada sediaan mata, bahan-bahan gelas. Untuk penggunaan darurat, pakaian dan alat kesehatan dan benda-benda karet. Kerugian yang paling prinsip dan penggunaan uap ini adalah ketidaksesuaiannya untuk penggunaan pada bahan sensitiv terhadap panas dan kelembaban. Metode ini tidak dapat digunakan untuk sterilisasi misalnya, produk yang dibuat dari basis minyak dan serbuk. Uap jenih pada 121oC mampu membunuh secara cepat semua bentuk vegetatif mikroorganisme hidup dalam waktu 1 atau 2 menit. Uap jenuh ini dapat menghancurkan spora vegetatif yang tahan terhadap pemanasan tinggi. Keefektifan sterilisasi uap bertekanan tergantung pada 4 sifat dari uap jenuh kering yaitu :
1. Suhu
2. Panas tersembunyi yang berlimpah
3. Kemapuan untuk membentuk kondensasi air
4. Kontraksi volume yang timbul selama kondensasi
Waktu yang dibutuhkan untuk mensterilkan larutan saat suhu 1210C selama 12 menit, ditambah waktu tambahan untuk larutan dalam wadah untuk mencapai 121C setelah termometer pensteril menunjukkan suhu ini. Secara umum larutan dalam botol 100-200 ml akan membutuhkan kurang 5 menit botol 500 ml antara 10-15 menit.
4 sifat ini tersedia hanya pada level yang optimal. Ketika uap pada batas fase diantaranya dan kondensasi pada temperatur yang sama. Hubungan minimum ditunjukkan pada gambar 7.5. Efek sterilisasi uap sebagai fase yang berpotongan
Gambar 7.5

Semenjak uap pada tekanan atmosfer tidak pernah melebihi temperatur 1000C. Jika terbatasi dalam chamber pada sebuah autoklaf temperatur meningkat sebagai peningakatan tekanan. Tabel 4.1 menunjukkan hubungan antara tekanan dan temperatur. Tekanan hanya mungkin dicapai pada temperatur yang lebih tinggi. Tidak ada yang dilakukan dan membunuh uap properti juga penting untuk mengingat bahwa hanya tekanan digunakan oleh uap adalah efektif. Tekanan udara tidak efektif untuk alasan ini udara seharusnya diselesaikan dengan sempurna si autoklaf untuk memastikan keefektifan sterilisasi uap dibawah tekanan membunuh bakteri dan spora dengan mengkoagulasi protein dari badan bakteri. Dalam kehadiran uap koagulasi mengambil peranan pada temperatur rendah daripada ketika panas. Udara kering digunakan untuk metode selanjutnya kematian bakteri dihasilkan oleh proses oksidasi.
Panas tersembunyi (latent) dibentuk ketika pemanasan dilanjutkan setelah air dicapai pada temperatur mendidih. Ini hanya setelah panas total penguapan air ditingkatkan sekitar 5 kali lipat. Bentuk uap pada fase boundary (batas) mempunyai temperatur yang sama dengan air mendidh yang dibentuk, tetapi itu mengandung sejumlah besar panas tersembunyi tanpa merendahkan tersedia secara cepat ketika berkontak dengan permukaan yang lebih sejuk. Contohnya, sementara chamber menerima penambahan 971 bta uap latent ke bentuk uapa pada tekanan atmosfer. Ketersediaannya yang cepat ini relatif besar jumlah dari panas latent adalah faktor yang penting dalam efektifitasnya sterilisasi.
Tabel 4.1
TEKANAN TEMPERATUR WAKTU
10 lb 115,50C (2400F) 30 menit
15 lb 121,50C (2500F) 12 menit
30 lb 126,50C (2600F) 9 menit
Ketika uap kontak dengan material untuk disterilisasi, dia dipekatkan dan secara cepat ditransfer panas latent ke permukaan bahan. Panas yang sensibel dari uap dikembalikan oleh kondensasi supaya tidak ada temperatur rendah local dibawah kondensasi panas latent dan kondensasi menjadi sangat penting pada sterilisasi yaitu membunuh mikroorganisme.
B. Uap panas pada 1000 C.
Uap panas pada suhu 1000 C dapat digunakan dalam bentuk uap mengalir atau air mendidih. Metode ini mempunyai keterbatasan penggunaan uap mengalir dilakukan dengan proses sterilisasi bertingkat untuk mensterilkan media kultur. Metode ini jarang memuaskan untuk larutan yang mengandung bahan-bahan karena spora sering gagal tumbuh dibawah kondisi ini, bentuk vegetatif dari kebanyakan bakteri yang tidak membentuk spora. Temperatur suhu titik mati bervariasi, tetapi tidak ada bentuk non spora yang bertahan.
Dalam prakteknya, 2 metode uap mengalir digunakan, suatu perpanjangan pemaparan uap selama 20-60 menit akan membunuh semua bentuk vegetatif bakteri tapi tidak akan menghancurkan spora. Untuk meyakinkan penghancuran spora, sterilisasi berjeda yang juga disebut sterilisasi tidak berlanjut. Penjedahan dan bertahap adalah tindalisasi digunakan. Dengan metode ini bahkan dipaparkan pada uap mengalir pada periode waktu bervariasi dari 20-60 menit setiap hari selama 3 menit. Antara pemaparan bahan terhadap uap yang disimpan pada suhu kamar atau pada inkubator pada 370 C. prinsip dari metode ini adalah pada saat waktu pertama kali pemaparan pada uap membunuh bakteri vegetatif tapi tidak sporanya. Tapi pada saat bahan disimpan pada inkubator atau pada suhu ruangan selam 24 jam, banyak spora akan tumbuh ke dalam bentuk vegetatif bentuk spora yang telah tumbuh ini akan dimatikan pada pemanasan hari ke dua. Kesuksesan dari proses ini tergantung pada spora yang berkembang ke bentuk vegetatif selama masa istirahat.
C. Pemanasan dengan bakterisida
Ini menghadirkan aplikasi khusus dari pada uap pans pada 1000 C. adanya bakterisida sangat meningkatkan efektifitas metode ini. Metode ini digunakan untuk larutan berair atau suspensi obat yang tidak stabil pada temperatur yang biasa diterapkan pada autoklaf. Larutan yang ditumbuhkan bakterisida ini dpanaskan dalam wadah bersegel pada suhu 1000 C selama 20 menit dalam pensterilisasi uap atau penangas air. Bakterisida yang dapat digunakan termasuk 0,5% fenol, 0,5% klorbutanol, 0,2% kresol atau 0,002% fenil merkuri nitrat saat larutan dosis tunggal lebih dari 15 ml larutan obat untuk injeksi intratekal atau gastro intestinal sehingga tidak dibuat dengan metode ini.
D. Air mendidih
Penangas air mendidih mempunyai kegunaan yang sangat banyak dalam sterilisasi jarum spoit, penutup karet, penutup dan alat-alat bedah. Bahan-bahan ini harus benar-benar tertutupi oleh air mendidih dan harus mendidih paling kurang 20 menit. Setelah sterilisasi bahan-bahan dipindahkan dan air dengan pinset yang telah disterilisasi menggunakan pemijaran. Untuk menigkatkan efisiensi pensterilan dari air, 5 % fenol, 1-2% Na-carbonat atau 2-3% larutan kresol tersaponifikasi yang menghambat kondisi bahan-bahan logam.

RPS 18 th : 1471
Panas lembab merupakan bentuk uap jenuh di bawah tekanan yang merupakan cara sterilisasi yang paling banyak digunakan. Penyebab kematian dengan cara sterilisai panas terhadap lembab berbeda dengan cara panas kering, kematian mikroorganisme oleh panas lembab adalah hasil koagulasi protein sel, berbeda dengan cara panas kering, kematian mikroorganisme yang paling penting adalah proses oksidasi.
USP menentukan sterilisasi uap sebagai penerapan uap jenuh di baeah teakana paling kurang 15 menit dengan temperatur minimal 1210 C dalam jaringan tekanan. Bentuk yang paling sederhana dari autoklaf adalah “ home preasure cooker”.
PTM : 123
Pemanasan Kering
Panas kering pada temperatur lebih 1600 C efektif menghancurkan mikroorganisme hidup dengan sebuah proses kehilangan kelembaban secara irreversible. Proses ini berjalan relatif lambat, mengisyaratkan sedikitnya 1 jam pada suhu 160oC tetapi lebih cepat pada temperatur yang tinggi. Panas kering ini sering merugikan beberapa produk.
Penerapan panas dengan keberadaan lembab lebih efektif untuk pembunuhan mikroorganisme diisyaratkan 15 menit pada suhu 121oC.


RPS 18th : 1471
Pemanasan Kering
Beberapa bahan yang tidak dapat disterilkan dengan uap, paling baik disterilkan dengan panas kering, misalnya petrolatum jelly, minyak mineral, lilin, wax, serbuk talk. Karena panas kering kurang efisien dibanding panas lembab, pemaparan lama dan temperatur tinggi dibutuhkan. Range luas waktu inaktivasi dalam temperatur bervariasi telah diterapkan berdasarkan tipe indikator steril yang digunakan, kondisi kelembaban dan faktor lain. Jumlah air dalam sel mikroba diketahui mempengaruhi resistensinya terhadap destruksi panas kering. Umumnya, ini diterima bahwa sel mikroba dalam daerah yang betul-betul kering menunjukkan resistensi terhadap inaktivasi panas kering. Ini jelas bahwa perhatian harus diberi untuk mendisain siklus sterilisasi panas kering untuk produk-produk rumah sakit dan validasi sistematis sterilisasi dengan metode sterilisasi standar.
Oven digunakan untuk sterilisasi panas kering biasanya secara panas dikontrol dan mungkin gas atau elektrik gas.
Beberapa waktu dan suhu yang umum digunakan pada oven :
1700C (3400 F) sampai 1 jam
1600C (3200 F) sampai 2 jam
1500C (3000 F) sampai 2,5 jam
1400C (2850 F) sampai 3 jam
B. Sterilisasi Secara Kimia
Parrot ; 280
Sterilisasi gas adalah cara menghilangkan mikroorganisme dengan menggunakan gas atau uap yang membunuh mikroorganusme dan sporanya. Meskipun gas dengan segera berpotensi menyerap serbuk padat. Streilisasi ini adalah fenomena permukaan dan mikroorganisme occluded dengan kristal akan dibunuh. Sterilisasi gas digunakan dalam bidang farmasi unutk mensterilisasi bahan-bahan termolabil. Gas bakterisida yang paling sering digunakan adalah gas Etilen Oksida. Meskipun sterilisasi uap merusak beberapa bahan dan dipindahkan dari bahan yang dicobakan melalui jalur sterilisasi. Gas ini tidak inert dan kereaktivannya terhadap bahan yang disterilisasi antara lain : Tiamin, Riboflavin, Streptomisin kehilanngan potensi dengan adanya etilen oksida.
Etilen oksida bereaksi sebagai bakterisida dengan alkilasi asam, amin, hidroksil dan gugus sulfhidril dari protein dan sel enzim. Kelembaban dibutuhkan untuk etilen oksida berpenetrasi dan merusak sel.
Etilen oksida bersifat eksplosif ketika bercampur dengan udara. Sifat ini dapat dihilangkan dengan menggunakan campuran etilen oksida dengan CO2. Carboxide ® 20 atau campuran etilen oksida dengan hidrokarbon berfluoresensi.
Sterilisasi dengan gas berjalan lambat, waktu sterilisasi tergantung pada keberadaan kontaminasi, kelembaban, temperature dan konsentrasi dari gas etilen oksida. Konsentrasi minimum adalah 450 mg/l pada tekanan 27psi.
Cara ini digunakan digunakan untuk mensterilkan obat serbuk seperti Penisilin, juga telah digunakan unutk sterilisasi benang, plastik, tube. Penggunaan etilen oksida juga untuk sterilisasi akhir peralatan parenteral tertentu seperti kertas kraft dan lapisan tipis polietilen. Semprot aerosol etilen oksida telah digunakan untuk mensterilkan daerah sempit dimana dilakukan teknik aseptik.
C. Sterilisasi Cara Mekanik (Scoville`s : 417)
Larutan dapat dibebaskan dari mikroorganisme vegetatif dan sporanya melalui filter bakteri. Filter bakteri tidak dapat membebaskan larutan dari virus bagaimanapun alat ini tidak mengurangi jumlah virus. Pada prinsipnya dengan absorbsi ke dalam dinding filter dan dengan menghilangkan partikel kasar dari bahan yang mengandung virus.
Sterilisasi dengan filter bakteri digunakan untk larutan farmasetik atau bahan biologi yang dipengaruhi oleh pemanasan. Berbeda dengan metode filtrasi lain, filter bakteri ditujukan untuk fltrat bebas bakteri. Metode sterilisasi ini membutuhkan penggunaan teknik aseptic yang benar. Sediaan obat yang disterilkan dengan metode ini membutuhkan penggunaan bahan bakteriostatik kecuali diarahkan lain. Larutan yang ditujukan untuk injeksi intravena atau merupakan larutan dosis tunggal intravena dengan volume lebih dari 15 ml tidak boleh ditambahkan bahan bakterisid. Parafin cair dan minyak lain, tidak disterilkan dengan metode ini karena dapat meningnkatkan permeabilitas dari filter terhadap bakteri. Unutk dapat membuat larutan bebas bakteri dan steril, digunakan filter dengan berbagai tipe. Tipe ini termasuk filter yang terbuat dari silicon murni, porselin, asbes, dan glass-fritted. Karena alat-alat ini mudah dibersihkan, filter Seitz yang menggunakan lapisan asbes dan fliter fritted glass mungkin lebih berguna untuk farmasis. Yang kadang-kadang dubutuhkan untuk menyaring larutan dalam jumlah kecil.
Mekanisme filtrasi bakteri adalah kompleks. Meskipun ukuran pori filetr penting, tapi bukan itu saja criteria untuk keefektifan filtrasi. Fliter dengan pori lebih kecil menghilangkan bakteri tetapi beberapa filtrasi sangat lambat umtuk tujuan praktek. Dengan meningkatkan ketebalan filter lilin memungkinkan untuk mencapai efisiensi filtrasi, tetapi nkerugiannya adalah bahwa kebanyakan bahan aktif dari larutan dihilangkan dengan penyerapan oleh lilin. Bagaimanapun, dengan mengatur ukuran pori dan ketebalan filter yang optimum, mungkin diperoleh filter yang efisien dan baik secara cepat. factor lain dilibatkan dalam filtrasi bakteri termasuk keseimbangan permukaan antara bahan filter dan bakteri dan larutan, suhu, tekanan yang digunakan, waktu filtrasi, muatan listril filter, pH bahan yang difiltrasi, dan adsorbsi protein dan bahan lain.
Filter Seitz
Filter ini dibuat dari bahan asbes yang dijepit pada dasar wadah besi. Keuntungan utama dari filter Seitz ini adalah lapisan filter dapat dibuang setelah digunakan dan masalah pembersihannya berkurang. Efisiensi tergantung pada pengembang serat dari lapisan filter dari air. Karena larutan alkohol pekat tidak membuat mengembang, filter ini tidak digunakan untuk mensterilkan larutan yang mengandung alkohol dalam jumlah besar.
Filter ini mampu dengan volume dari 30 ml hingga lebih dari 100 ml. Kerugian pertama dari filter ini adalah cenderung memberikan komponen magnesium pada filtrat. Bahan alkali ini dapat menyebabkan konsentrasi pengendapan alkaloid bebas dari garamnya dan dapat menginaktifkan seperti insulin, ekstrak pituari, epinefrin dan apomorfin. Hal ini dapat diatasi dengan perawatan pertama filter dengan dibasahkan dengan HCl lalu dibilas dengan air.
Kerugian kedua dari seitz adalah permukaan serat pada lapisan filter membuat larutan tidak cocok untuk injeksi. Ini dapat diatasi dengan menempatkan ayakan dari nilon atau sutra dibawah lapisan filter sebelum menempatkan lapisan dalam filter, atau sebuah filter gelas fritted dapat ditempatkan pada saluran keluar untuk menghilangkan serat. Filter seitz ini juga cenderung untuk menghilangkan bahan dari filtrat bahan adsorbsi.
Filter Swinny
Sebuah adaptasi dari filter seitz, filter swinny mempunyai adat terkhusus yang terdiri dari lapisan hasbes, bersama dengan screen dan pencuci. Utamanya untuk digunakan filter swinny dibungkus dengan kertas dan diotoklaf. Bagian yang dipasang dihubungkan pada spoit Luer-lola dan cairan dimasukkan melalui disk asbes dengan menggunakan tekanan pada saluran spoit.
Filter Fritted-Glass
Filter fritted-glass disusun dari dasar serbuk, tombol bulat dari gelas digabung bersama dengan penggunaan panas untuk menentukan sebelumnya ukuran dalam bentuk disk. Permeabilitas filter barbanding secara tidak langsung dengan ukuran butiran. Setelah disk dibentuk, kemudian disegel dengan pemanasan kedalam corong gelas pyrex dibentuk seperti corong buchner.
Filter fritted-glass yang baru harus dicuci dengan penghisap dengan HCl panas dan kemudian dibilas dengan air sebelum digunakan. Filter dapat dibersihkan dengan membilasnya dengan air dibawah tekanan. Jika air tidak dapat membersihkan filter, suatu konsentrasi larutan asam sulfat mengandung 1 % sodium nitrat dipanaskan pada suhu 80oC dapat digunakan. Filter fritted dirancang utamanya untuk filtrasi vakum. Jika digunakan filtrasi dibawah tekanan, perbedaan maksimum pada diks harus tidak boleh dari 15 pouns inci persegi (p.si).
Filter Berkefeld & Mandler
Tes bentuk tube filter pembanding ini, yang dihubungkan dengan dasar logam dan saluran keluar tubuh adalah lama pada keduanya. Felter mandler dibuat dari silikat murni, asbes, dan kalsium sulfat (gips dari paris); filter berkefeld terdiri dari silika murni. Kedua filter ini bermuatan negatif. Filter ini tersedia dalam beberapa tingkatan porositas berdasarkan pada permeabilitas terhadap air, pada berkefeld atau pada mandler berdasarkan pada jumlah tekana air dalam pons yang dibutuhkan untuk mendorong udara melalui saluran keluar melawan air.
Saluran berkefeld dan mandler dibersihkan dengan menggunakan air destilasi melalui saluran dari luar kedalam diikuti dengan menggosok bagian luarnya menggunakan sikat dalam aliran air. Saluran berkefeld dan mandler dapat disterilkan dengan autoklaf pada 121oC selama 20 menit. Tabung harus dibungkus dengan kain atau kertas secara langsung setelah dibilas dan saat masih basah sebelum ditempatkan di autoklaf.
Selas Filter
Filter porselen buatan Amerika sekarang tersedia dengan nama selas filter porselen microporous. Filter ini secara kimia inert, menjadi tahan terhadap semua larutan yang tidak menyerang silica.
Saluran gelas filter dapat dibersihkan dengan menggosoknya dengan sikat, dengan membilas, pencucian, dengan menggunakan alkali atau detergen asam atau dengan pemanasan dalam tungku dilaboratorium pada temperatur maksimum 1200oC dan dapat disterilkan dengan autoklaf.
Saluran Filter Chamberland Pasteur
Filter ini mempunyai bentuk yang mirip dengan berkefeld tetapi filter ini terbuat dari porselen penyerap yang tidak berlapis dengan pori-pori kecil yang menghasilkan filtrasi yang lambat. Filter ini dapat dibersihkan dan disterilkan dengan cara yang sama dengan yang digunakan untuk saluran bekerfield.
Kesimpulan:
Metode Sterilisasi Prinsip Kerja Mekanisme Kerja Alat & Bahan
Sterilisasi Fisik
Panas Kering
- Panas Oven





















- Penangas minyak dan lainnya









- Pemijaran langsung





Panas Lembab
- Uap bertekanan




















- Panas lembab pada 1000C








- Pemanasan dengan bakterisid






- Air mendidih









Cara Bukan Panas
Sinar UV




























Radiasi Pengionan


Memiliki sumber panas, mengandung pengatur suhu otomatis dan termometer, udara disirkulasi olehsuatu penggerak aliran udara, mencapai suhu sterilisasi yang digunakan 1600C pada paling kurang 1 jam dan biasanya lebih dipilih 2 jam (scoville;405)
Pada pemanasan dengan panas kering, panas ditransfer dengan memakai sistem konveksi dan konduksi. Ini diperlukan agar lingkungan gas dapat berpindah selama benda disterilisasi (DOM Martin; 605)
Dengan mencelupkan alat dan bahan yang akan disterilkan ke dalam penangas yang berisi minyak mineral pada suhu 1620C. Larutan jenuh panas dari natrium dan amonium klorida dapat digunakan sebagai pensterilisasi (Scoville;407).
Dalam beberapa kasus bagian yang bercahaya dari api langsung harus dipaparkan pada tiap bagian paling tidak 20 detik ( Scoville; 407)


Ketika uap panas memasuki autoklaf, ia mengisi area bagian atas dari ruangan dan menekan udara pada bagian bawah dan mendorongnya keluar melalui pipa atau tempat pembuangan udara. Waktu yang dibutuhkan kurang lebih 12 menit pada suhu 1210C (Scoville; 408)
Udara ditarik melalui penyiapan vakum pada 15 mmHg ( tekan absolut). Udara sisa/ residu setelah pengvakuman penting/ utama telah siap ditampung (DOM Martin ; 600)
Periode awal pada permukaan untuk uap panas membunuh sel vegetatif bakteri tetapi tidak sporanya. Panas lembab pada 1000C dapat menggunakan 2 bentuk aliran uap panas dan air mendidih (Scoville;412)
Larutan ditambahkan bakterisid dan dipanaskan dalam wadah bersegel pada suhu 1000C selama 30 menit dalam pensteril uap panas atau waterbath (Scoville; 413)
Alat dan bahan direndam pada air mendidih dan mendidih setelah 20 menit, Setelah mendidih diangkat dengan gunting tang yang telah disterilkan dengan pemanasan( Scoville; 413)


Sinar yang bersifat membunuh mikroorganisme (germisida) diproduksi oleh lampu merkuri yang dipanaskan secara ekslusif pada 2537 (Lachman;628)








Sumber radiasi UV adalah lampu uap merkuri bertekanan rendah. Kemampuan dari sejumlah kecil lampu uap merkuri cenderung dapat membuat sterilisasi UV(DOM Martin; 618)




Sterilisasi produk harus diselenggarakan dalam sterilisasi batch dengan proses berkesinambungan memerlukan pengendalian yang tepat, sehingga tidak ada bagian yang lepas dari keefektifan sterilisasi (Lachman;628)
Sterilisasi radiasi dapat dilakukan dengan baik radiasi elektromagnetik dan energi photon, termasuk ultra dari bahan radioaktif seperti Co-60 atau sesium -137 ( RPS 18th;1476)









Sumber radioisotop sinar γ memiliki daya penetrasi tinggi daripada elektron dan mudah dikontrol (DOM Martin ; 608)

Mikroorganisme dibunuh melalui proses oksidasi (Scoville;405)









Panas kering menghancurkan mikroorganisme melalui mekanisme oksidasi. (DOM Martin; 603)




Minyak bereaksi sebagai lubrikan untuk menjaga alat tetap tajam dan dan untuk memelihara cat penutup (Scoville; 407)














Panas uap bertekanan membunuh mikroba dengan koagulasi protein dari tubuh bakteri (Scoville; 408)








Denaturasi protein pada tubuh mikroba. (DOM Martin; 599)






Ketika benda disimpan pada suhu kamar selama 24 jam, sebagian akan berubah menjadi bentik vegetatifnya. Ini akan matikan ketika dipanaskan pada hari ke-2 ( Scoville; 412)

Menggunakan zat-zat bakterisid yang dapat membunuh bakteri. Biasanya menggunakan 0,5 % fenol; 0,2 % clorokresol; atau 0,002% fenil merkuri nitrat (Scoville;413)
Menghambat korosi dari alat-alat logam (Scoville; 414)









Ketika UV melewati bahan, energi bebas ke elektron orbital dalam atom-atom dan mengubah kereaktivannya. Ketika eksitasi dan perubahan aktivitas asam-asam utama terjadi dalam molekul-molekul m.o atau itu mati atau tidak dapat berproduksi. Pengaruh utamanya mungkin pada asam nukleat sel. (Lachman;628)
Keefektifan dari radiasi UV pada panjang gelombang 2400-2800Å menghancurkan m.o disebabkan oleh koefisien absopsi tinggi dari beberapa substansi seperti protein dan asam nukleat untuk energi sinar ini. (DOM Martin;617)
Menghancurkan m.o dengan menghentikan reproduksi sebagai hasil mutasi letal. Mutasi ini dapat disebabkan karena transformasi radiasi menjadi molekul penerima pada sinar X (lachman; 628)


Elektron yang berinteraksi langsung dengan bahan menyebabkan ionisasi seperti elektron elektromagnetik menyebabkan ionisasi pada mekanisme yang bervariasi yang menghasilkan perpindahan suatu orbital elektron dengan mekanisme jumlah tertentu dari energi yang ditransfer dalam insiden sinar γ (RPS 18th;1476)
Merusak bahan inti atau merusak struktur sitoplasma (DOM Martin;607)

Minyak lemak, parafin, vaselin kuning, parafin cair, gliserin, propilen glikol, serbuk stabil seperti talk, kaolin, dan ZnO. Alat-alat gelas dan alat bedah. (Scoville;404)



Cawan petri, tube, alat pemotong yang tajam, spoit dan jarumnya, minyak dan salep, vaselin tipis atau ayakan (DOM Martin ; 605)



Bahan kimia stabil dalam ampul bersegel, alat-alat bedah. (scoville; 407)








Spatula logam, filter logam bekerfield, jarum logam dan kawat, papan salep, lumpang dan alu (Scoville;407)


Lar. Injeksi, pembawa sediaan mata, alat-alat gelas untuk keadaan darurat pakaian dan alat bedah, benda dari kertas ( Scoville; 408)






Botol dan kaleng, beberapa tipe kateter dari karet, alat-alat gelas dan perkakas, popok, sarung tangan karet, alat-alat bedah, atas panci, sikat, dan spoit dan jarum (DOM Martin;600)
Larutan yang mengandung bakterisi, jarum dan poit, ampul, dan botol ( Scoville; 413)





Larutan borat atau suspensi obat yang tidak stabil pada suhu autoklaf (Scoville; 413)




Spoit dan jarum, tube karet, sumbat penutup, dan alat-alat bedah (Scoville; 413)








Mengurangi kontaminasi dari udara dan dari lingkungan (Lachman;628)











Produk makanan, bahan pembungkus, daerah pengerjaan, dan penghancuran bakteri/organisme tahan udara (anaerob). (DOM Martin;617)

















Alat-alat rumah sakit, vitamin, antibiotik, steroid hormon, dan transplantasi tulang dan jaringan, alat pengobatan seperti alat suntik plastik, jarum, alat bedah, tube plastik, katter, benang bedah, da cawan petri ( RPS 18th; 1476)





Alat suntik plastik, disposible,jarum suntik, sarung tangan, lubrikan, kateter, alat penahan darah (DOM Martin;608)

II.1.6 Keuntungan dan kerugian metode sterilisasi
a. Sterilsasi metode fisika
Sterilisasi Panas Kering
Keuntungan :
1. Dapat digunakan untuk membunuh spora dan bentuk vegetatifnya dari semua mikroorganisme (Lachman Industri; 1263)
2. Umumnya digunakan untuk senyawa-senyawa yang tidak efektif disterilkan dengan uap air panas (Ansel; 413)
3. Metode pilihan bila dibutuhkan peralatan yang kering atau wadah yang kering seperti pada zat kimia kering atau larutan bukan air (Ansel; 414).
Kerugian :
1. Hanya digunakan untuk zat-zat yang tahan penguraian pada suhu diatas kira-kira 140oC (Lachman Industri; 1263)
2. Karena panas kering efektif membunuh mikroba dengan uap air panas, maka diperlukan temperatur yang lebih tinggi dan waktu yang lebih panjang (Ansel; 413)
Sterilisasi Uap Panas
Keuntungan :
1. Adanya uap air dalam sel mikroba menimbulkan kerusakan pada temperatur yang relatif rendah daripada tidak ada kelembaban (Ansel;412)
2. Metode ini digunakan untuk sediaan farmasi dan bahan-bahan yang dapat tahan terhadap temperatur yang digunakan dan penembusan uap tetapi tidak timbul efek yang tidak dikehendaki akibat uap air (Ansel :413)
3. Sel bakteri dengan kadar air besar umumnya lebih mudah dibunuh (Ansel : 413)
4. Dipergunakan untuk larutan jumlah besar, alat-alat gelas, pembalut operasi dan instrument (Ansel :413)
5. Dapat membunuh semua bentuk mikroorganisme vegetatif (Scoville`s:408).
Kerugian :
1. Tidak digunakan untuk mensterilkan minyak-minyak lemak, sediaan berminyak dan sediaan yang tidak dapat ditembus oleh uap air atau pensterilan serbuk terbuka yang mungkin rusak oleh uap jenuh (Ansel;413)
2. Spora-spora yang kadar airnya rendah, sukar dihancurkan (Ansel;413)

b. Sterilisasi Gas
Keuntungan :
1. Beberapa senyawa yang tidak tahan terhadap panas dan uap dapat disterilkan dengan baik dengan memaparkan gas etilen oksida atau propilen oksida bila dibandingkan dengan cara lain (Ansel :416)
2. Dapat digunakan untuk membunuh mikroorganisme dan spora lain (Parrot : 280).
Kerugian :
1. Gas-gas (etilen dan propilen oksida) mudah terbakar bila tercampur dengan udara (Ansel :417)
2. Tindakan pengemasan yang lebih besar diperlukan untuk sterilisasi dengan cara ini daripada dengan cara lain karena waktu, suhu, kadar gas dan kelembaban jumlahnya tidak setegas seperti pada sterilisasi panas kering dan lembab panas (Ansel :417)
3. Gas-gas sulit hilang dan kebanyakan bahan-bahan setelah pemaparan (Lachman Industri :1283)
4. Iritasi jaringan dapat terjadi jika etilen oksida tidak dihilangkan sama sekali, sifat karsinogenik dan mutagenik dari etilen oksida dari sisa-sisa pada bahan yang digunakan pada manusia (Lachman Industri;1285)
5. Waktu siklus untuk sterilisasi dengan etilen oksida agak lama (Lachman :1286).

c. Sterilisasi Dengan Penyaringan
Keuntungan :
1. Penyaringan dapat digunakan untuk memisahkan partikel termasuk mikroorganisme dari larutan gas tanpa menggunakan panas (Lachman Industri :1285)
2. Saringan tidak harus mengubah larutan/gas segala cara (Lachman Ind;1265)
3. Tidak menghilangkan bahan yang diinginkan atau membawa komponen yang tidak diinginkan (Lachman Industri :1265)
4. Kecepatan penyaringan sejumlah kecil larutan, kemampuan untuk mensterilkan secara efektif bahan tahan panas (Ansel :416)
5. Peralatan yang digunakan relatif tidak mahal dan mikroba hidup dan mati serta partikel-partikel lengkap semua dihilangkan dari larutan (Ansel :416).
Kerugian :
1. Penyaringan cairan dengan volume besar akan memerlukan waktu yang lebih lama terutama bila cairan kental dibandingkan dengan bila memakai cara sterilisasi lembab panas (Ansel : 414).
2. cara ini diharuskan menjalani pengawasan yang ketat dan memonitoring karena efek hasil penyaringan dapat diperngaruhi oleh banyaknya mikroba dalam larutan (Ansel : 414).
3. Filter bakteri tidak efektif menghilangkan virus dari larutan (Scoville’s:419).
4. Muatan dalam pH yang sesuai yang bersifat alkali menyebabkan kerusakan filter dan partikel yang kecil pada filter merupakan masalah yang khusus (Scoville’s: 419)
5. Tiap kebocoran yang mungkin terjadi pada sistem ini menyebabkan kerusakan pada bagian luar tanpa kontaminan filtrat yang steril (Lachman:1282-1283 )
6. Kesulitan mempertahankan kondisi aseptis seperti merupakan masalah besar sehubungan dengan sterilisasi melalui penyaringan (Lachman Industri: 1283 ).





11. Keuntungan dan Kerugian Salep Mata
I. Keuntungan
 RPS 18th : 1584, 1587
- Salep mata umumnya biovalailabilitas yang lebih besar dibandingkan larutan berair. Karena waktu kontak obat yang lebih lama dan diperpanjang dan absorpsi obat ditingkatkan.
- Dari tempat kerjanya yaitu bekerja pada kelopak mata, kelenjar sebasea, konjungtiva, kornea dan iris.
 SDF : 368
Salep mata dapat mempertahankan kontak lama dengan mata.
RPS 18th :
 Ansel ; 563
Penambah waktu hubungan antara obat dengan mata, waktu kontak antara obat dengan mata 2-4 kali lebih besar apabila dipakai salep dibandingkan larutan garam
Kesimpulan :
1. Waktu kontak antara obat dengan mata lebih lama
2. Bioavailabilitas obat lebih besar
3. Tempat kerjanya lebih banyak daripada tetes mata yaitu pada kelopak mata, kornea, iris, kelenjar sebasea, dan konjungtiva.
4. Tidak mudah tercuci air mata


II. Kerugian Salep Mata
a. RPS 18th : 1585
- Onset dan waktu puncak absorpsi lebih lama
- Variasi dosis besar
b. RPS 16th ; 1502
Pada sisi negatif, salep mata cenderung membentuk lapisan pada mata dan menyebabkan pandangan kabur. Salep mata mengganggu bila normal dapat menyebabkan masalah-masalah pencampuran antara pembawa salep dengan cairan mata dan termasuk tambahan parameter partisi untuk obat antara salep dengan lapisan air mata.
c. Modern Pharmaceutical E-book
Kerugian penggunanan salep mata adalah penggunaan bahan berminyak dan pengaburan penglihatan yang dihasilkan. Umumnya digunakan sebagai terapi adjuntif pada malam hari, dengan penggunaan tetes mata.
d. Ansel ; 563
Salah satu kekurangan bagi salep mata adalah kaburnya pandangan yang terjadi begitu dasar salep meleleh dan menyebar melalui lensa mata.
Kesimpulan :
1. Onset dan waktu absorpsi lebih lama
2. Variasi dosis besar
3. Kaburnya pandangan yang terjadi ketika salep mata dioleskan
4. Ada kecenderungan pencampuran antara pembawa salep dan cairan mata
12. Anatomi dan Fisiologi Mata
 DOM King : 141
Mata adalah organ untuk melihat. Bola mata terletak dalam lubang tengkorak dan dialasi oleh lemak dan jaringan penghubung. Bagian anterior terpapar dan terdiri dari kornea yang transparan, sklera yang opak dan membran konjungtiva. Bola mata dilindungi oleh kelopak mata dan alis.
Kulit dari kelopak mata lebih tipis daripada kulit bagian tubuh yang lain. Ini tentu saja mempermudah kelopak mata untuk membuka dan menutup. Permukaan kedua bagian dalam kelopak mata ditutupi oleh perluasan membran seperti membran konjungtiva yang menutupi sklera.
Sekresi kelenjar kelopak air mata memberikan perlindungan mata dengan membantu melindungi kehilangan cairan. Sekresi kelenjar meibomian adalah lipoidal dan membentuk bagian lapisan air mata pada prekornea. Sekresi meibomian juga membantu aliran air mata dari tepi ke kelopak mata. Permukaan kelopak mata bagian dalam membentuk cul de sac, terbagi atas formix superior dan inferior.
Kornea adalah lensa pertama dalam sistem optalmik mata. Secara anatomi kornea adalah struktur multilayer, tidak mengandung pembuluh darah tetapi kaya akan saraf sensorik. Kornea terdiri dari tiga lapisan utama yaitu epithelium luar dan epitelium dalam yang kaya akan lemak, dan stroma tengah yang hidrofilik. Jaringan kornea biasanya mengandung air 75-80%. Keseimbangan air kritis terhadap integritas kornea.
Kornea normal seluruhnya devoid aliran darah. Kekurangan vaskuler ini mungkin untuk perbaikan jaringan kornea normal yang rapat dan tinggi. kornea dan juga konjungtiva, namun demikian disuplai banyak oleh reseptor nyeri pada ujungnya. Sesungguhnya kornea adalah salah satu daerah pada tubuh yang paling sensitif.
Kornea tak berpembuluh darah tergantung pada permeabilitas nutrisinya. Oksigen dan bahan-bahan lain diserap dari lapisan air mata dan cairan lain. Permeabilitas kornea juga faktor utama dalam penyerapan obat untuk penggunaan mata.
Sisanya, penampakan "mata putih" dibuat dari yang rapat, opak, sklera fibrous dengan penutupnya membran konjungtiva. Membran konjungtiva menutupi permukaan luar sklera dan membentang permukaan dalam kelopak mata. Membran hanya kehilangan sambungan ke bola mata, memberikan kebebasan pergerakan, dengan pengangkatan membrane, injeksi subkonjungtival obat dapat digunakan.
Cairan air mata adalah cairan yang lebih kompleks yang terbuat dari elektrolit, protein, karbohidrat, enzim lisozim dan asam organik. Total padatan sekitar 1,8%.
Cairan lakrimal terdiri dari kelenjar lakrimal dan sekresi kelenjar mukus dari konjungtiva. pH air mata kira-kira 7,4 dengan range 7,3-7,7. Konsentrasi osmotik yang sama dengan 0,9% NaCl.
Permukaan mata dilapisi dengan lapisan air mata. Ini adalah lapisan ketiga dari komposisi yang sangat berbeda. Lapisan terdalam dari lapisan mata terbuat dari bahan yang dikeluarkan dari sel goblet konjugtiva. Bagian luar adalah lapisan ketiga yang superficial yang terbuat dari sekresi meibomian lipoid. Lapisan tengah, 6,5-7 µm tebal, terbuat dari cairan air mata.
Total volume cairan mata adalah kecil, tetapi kecepatan pergerakannya adalah signifikan. Kira-kira 7µL, cairan lakrimal kontak dengan kornea dalam beberapa waktu kecepatan pergerakan kira-kira 1 µL/menit pada mata manusia. Normalnya, mata mengandung 10 µL cairan mata dan beberapa keluar mengalir dengan cepat dari mata melalui sistem pengairan lakrimal. Regular rubber bulb dropper atau penetes tipis khusus dalam wadah plastik adalah maksud utama untuk penggunaan larutan mata. Volume satu drop/tetes dari maksud ini biasanya 25-50 µL. oleh karena itu banyak larutan obat digunakan pada mata dengan segera hilang dengan cairan dari cul de sac. Kecepatan larutan melalui sistem drainase lakrimal juga meningkatkan volume larutan. Volume lebih kecil (10 µL) lebih pekat obatnya akan mungkin memberikan bioavailabilitas yang lebih baik daripada volume besar (50µL) dari larutan yang mengandung 1/2-1/3 konsentrasi dari obat yang sama.



Gambar AnatomiMata

 RPS 18th ; 1581
Mata manusia adalah subjek yang menarik untuk pemberian topikal obat. Dasar ini dapat ditemukan dalam susunan anatomi dari jaringan permukaan dan dalam permeabilitas kornea. Tindakan perlidnungan dari kelopak mata dan sistem lakrimal adalah seperti penghilangan dengan cepat dari bahan yang dimasukkan kedalam mata, kecuali bahannya bervolume kecil dan secara kimia dan fisiologis dapat bercampur dengan jaringan permukaan.
Kelopak Mata
Kelopak mata memiliki 2 tujuan : perlindungan mekanik terhadap bola mata dan mensekresikan suatu cairan optimum untuk kornea. Kelopak mata dilicinkan dan dijaga kandungan airnya oleh sekret kelenjar lakrimal dan dikhususkan pada sel-sel yang terletak pada konjungtiva bulbar. Ruang penyokong memiliki bentuk tipis yang terpisah secara langsung lewat didepan bola mata, dengan perluasan kantong menaik dan menurun. Kantong-kantong tersebut disebut ruang superior dan inferior serta semua tempat, cul-de-sac. Celah antara kelopak mata disebut celah palbebra.
Bola mata
Dinding bola mata manusia (bulbus, bula) disusun atas tiga lapisan konsentris :
a. Lapisan fibrous luas
b. Lapisan vaskular tengah – sistem uvea atau traktus uveal, mengandung koroid, badan siliar dan iris
c. Lapisan saraf retina
Lapisan terluar kuat, dapat disentuh dan sedikit longgar. Pada bagian depan, bagian yang menghadap keluar. Struktur halus pada lapisan terluar sangat tertaur dan kandungan airnya sangat seksama diatur sehingga bertindak sebagai jendela yang jernih dan trasnparan (kornea). Ini mencegah pembuluh darah. Diatas 2/3 dari selaput serat yang tersisa nampak buram (bagian putih dari mata) dan disebut sklera. Sklera mengandung mikrosirkulasi yang memberikan nutrisis jaringan pada bagian atas anterior dan biasanya putih kecuali ketika terjadi iritasi dan dilatasi pembuluh darah
Ruangan bola mata adalah suatu alat optik yang menyebabkan penampakan yang terbalik diperkecil yang terbentuk pada retina, yang mana merupakan membran tipis yang tembus cahaya. Secara berurutan alat optik terdiri dari : kornea, pupil, lensa kristal dan retina, dengan lapisan cairan yang jernih atau bahan seperti gel yang terjepit antara struktur yang padat. Pupil, lubang bulat dalam suatu bagian membran kontraktil (disebut iris), bertindak sebagai fungsi penampakan dari sistem. Lensa kristal adalah suatu unsur retraktif dengan kemampuan fungsi yang dikontrol dan didukung oleh suatu jaringan otot dalam badan siliar. Koroid adalah metabolit yang mendukung retina
Fungsi optikal dari mata harus stabil secara dimensi yang mana dilakukan oleh sebagian selaput bagian luar, keefektifannya adalah suatu faktor penstabil pada tekanan intraokuler, yang mana akan mengeluarkan tekanan yang sama pada jaringan disekitarnya. Tekanan intraokuler ini menghasilkan produksi cairan spesifik yang mantap, cairan homur yang asli dari proses siliar dan mata menjadi sistem yang berbeli-belit dari kanal alirannya. Tahanan yang ditemui selama pelewatan dan kecepatan pembentukan cairan merupakan faktor utama yang menentukan tingkat tekanan intraokular. Sebagai tambahan untuk fungsi mekanis hidronya, cairan humor bertindak sebagai carrier nutrient, substrat dan metabolit untuk jaringan ovaskular mata. Tulang pada rangka juga mendukung bentuk yang mendekati piramid yang ditempati oleh bola mata, disebut orbit
Konjungtiva
Membran konjungtiva menutupi permukaan terluar dari bagian putih mata dan bagian dalam dari kelopak mata. Pada kebanyak tempat terikat dengan longgar dan dengan demikian memungkinkan gerakan bebas dari bola mata. Ini memungkinkan pemberian injeksi subkonjungtival kecuali untuk kornea, konjungtiva merupakan bagian terluar dari mata
Sistem lakrimal
Permukaan konjungtiva dan kornea ditutupi dan dilicinkan oleh suatu lapisan air yang disekresi oleh kelenjar lakrimal dan konjungtiva. Sekresi dari kelenjar lakrimal, air mata, diantara ke beberapa duktus kecil ke dalam formix konjungtiva, sekretnya jernih, berair, mengandung berbagai garam-garam, glukosa, komponen organik lainnya, sekitar 0,7 % protein dan enzim lisosom. Bagian kelenjar lakrimal dikondisikan pada fornix konjungtiva. Sekretnya cocok untuk meleicinkan dan membersihkan dibawah kondisi biasa dan untuk mempertahankan lapisan tipis berair yang menutupi kornea dan konjungtiva (lapisan prekorneal). Lapisan protein musin dari lapisan khususnya penting dalam mempertahankan stabilitas dari lapisan. Kelenjar lakrimal utama disebut memerankan hanya pada fungsi yang khusus. Kelenjar sebaseus terdapat pada kelopak mata mensekresi cairan berminyak yang membantu mencegah air mata yang berlebihan pada tepi kelopak dan mengurangi penguapan permukaaan yang terpapar pada mata dan menyebar diatas lapisan air mata
Kedipan mata membantu lapisan cair dengan menekan lapisan tipis dari cairan didepan tepi kelopak mata pada saat keluar bersama-sama. Kelebihan cairan menuju ke penampungan lakrimal, suatu daerah segitiga kecil terhampar pada sudut bagian paling dalam dari kelopak mata. Kulit kelopak mata tipis dan dapat terlipat dengan mudah, sehingga memberikan pembukaan yang cepat dan penutupan pada celah palpebral. Gerakan kelopak mata termasuk penyempitan celah palpebral dalam suatu kantong mata, seperti tindakan chantus lateral melewati chantus (chant : sudut dimata bertemu). Ini akan membantu transport atau gerakan cairan melewati bagian lakrimal
Lapisan Prekorneal
Kornea harus basah untuk menjadi permukaan mata yang memadai, ketika kurang basah kornea kehilangan permukaannya yang halus dan sifat transparannya. La[isan prekorneal, bagian dari larutan air mata, memberikan kelembaban yang penting pada permukaan. Sifat dari lapisan prekorneal tergantung dari kondisi epitel kornea. Lapisan tersebut bercampur dengan sediaan mata berair dan lipid, disusun dari lapisan lipid tipis terluar. Lapisan berair yang tebal ditengah dan suatu lapisan mukoid tipis bagian dalam. Hal ini diperbaharui pada setiap kediapan dan ketika berkedip mengalami tekanan, baik oleh obat atau secara mekanik, akhirnya akan mengering pada potongannya. Ini memperlihatkan tidak berpengaruhnya penambahan konsentrasi hingga 2 % NaCl terhadap cairan konjungtiva. pH dibawah 4 atau diatas 9 akan menyebabkan kekacauan lapisan. Lapisan ini mempengaruhi gerakan lensa kontak dan terbentuk cepat dengan mudah pada gelas daripada plastik
Kornea
Kornea tebalnya 0,5 – 1 mm terdiri dari struktur berikut (dari depan ke belakang) :
1. Epitel kornea
2. Substantia propia (stroma)
3. Endotel kornea
Kornea transparan untuk mendifusikan cahaya secara luar biasa, besarnya cahaya karena susunan tegak lurus dari sel dan serat dan karena tidak adanya pembuluh darah. Pengaburan kornea mengkin satu dari beberapa faktor termasuk tekanan bola mata sebagai glaukoma; jaringan bebas luka karena dilukai, injkesi atau kekurangan O2 atau kelebihan air seperti yang dapat terjadi karena pemakaian kontak lensa.
Gambar Anatomi Mata

 Modern Pharmaceutics ; 492
Gambar Anatomi dan Sistem Lakrimal












Tabel 1 Struktur anatomi dari mata
Konjungtiva
Sac konjungtiva inferior
Sac konjungtiva superior
Kornea
Epitelium
Membrane Bowman’s
Stroma (substansia propia)
Membran Descemet
Endotelium
Ruang anterior
Sudut ruang anterior
Kanal Schlemm
Ruang Fontana Iris
Uvea
Ruang posterior
Zonules dari Zinn
Lensa
Vitreous humor
Kapsul Tenon
Retina
Badan Siliar (zone)
Kelenjar Meibomian
Ruang Posterior
Ruang Vitreous

Kesimpulan:
Anatomi mata:
1. Bola mata; tersusun atas
- Lapisan luar
a. Otot-otot oblik; berfungsi untuk menggerakkan mata
b. Sklera; berfungsi melindungi mata
c. Konjungtiva; berfungsi sebagai selaput lendir yang melapisi sisi dalam kelopak mata serta menutupi bagian depan sklera.
- Lapisan tengah (khoroid); berfungsi sebagai pembentuk iris yang berlubang di tengahnya, atau disebut pupil(manik) mata.
- Lapisan dalam
a. Kornea; berfungsi melindungi struktur halus di belakangnya dan membantu memfokuskan bayangan pada retina.
b. Iris; berfungsi mengendalikan cahaya yang masuk ke dalam mata.
c. Pupil; berfungsi sebagai celah masuknya cahaya guna mencapai retina.
d. Lensa; berfungsi sebagai organ fokus utama yang membiaskan berkas-berkas cahaya dari benda-benda yang dilihat menjadi bayangan yang jelas pada retina.
e. Vitreus humor; berfungsi memberi bentuk dan kekokohan pada mata, serta mempertahankan hubungan antara retina dengan selaput khoroid dan sklerotik.
f. Retina; berfungsi menghantarkan impuls saraf dari luar menuju diskus optik.
2. Alis; berfungsi melindungi mata dari sinar matahari yang kelewat terik.
3. Kelopak mata
- Bulu mata; berfungsi melindungi mata dari debu dan cahaya


13. Mengapa salep mata harus steril
 SDF ; 359
Steril harus merupakan syarat yang paling penting. Larutan mata yang dibuat dapat membawa banyak mikroorganisme, ini khususnya berbahaya untuk penggunaan produk-produk nonsteril pada mata saat kornea terkena. Bahan epartikulat dapat mengiritasi mata menghasilkan ketidaknyamanan pada pasien.
 RPS 18th : 1583
Pseudomonas auruginosa (Bacillus pyocyaneus, Pseudomonas pyocyanea, Blu pas bacillus). Ini merupakan mikroorganisme berbahaya dan opurtunis yang tumbuh baik pada banyak kultur media dan menghasilkan toksin dari produk antibakteri. Cenderung untuk membunuh kontaminan lain dan membiarkan Pseudomonas aeruginosa untuk tumbuh pada kultur murni. Bacillus gram negative juga tumbuh pada sediaan mata yang menjadi sumber infeksi serius pada kornea. Ini dapat menyebab antimikroba akan kehilangan penglihatan pada 24-48 jam. Pada konsentrasi yang ditoleransi oleh jaringan mata menunjukkan bahwa semua zat antimikroba didiskusikan pada bagian berikut dapat tidak efektif melawan beberapa strain dari aeruginosa ini.
 Prescription : 181
Jika suatu anggapan bahwa batasan mekanisme pertahanan mata menjelaskan dengan sendirinya bahan sediaan mata harus steril. Air mata tidak mengandung antibody atau mekanisme untuk memproduksinya. Mekanisme utama untuk pertahanan melawan infeksi mata adalah aksi sederhana pencucian dengan air mata dan suatu enzim yang ditemukan dalam air mata (Lizosim) yang mempunyai kemampuan menghidrolisa selubung polisakarida dari beberapa mikroorganisme. Satu dari mikroorganisme yang tidak dipengaruhi oleh lizosim yakni yang paling mampu menyebakan kerusakan mata yaitu Pseudomonas aeruginosa . Infeksi serius yang disebabkan mikroorganisme ini ditunjukkan dengan suatu pengujian literature klinis yang penuh dengan istilah-istilah seperti enukleasi mata dan transplantas kornea. Penting untuk dicatat bahwa ini bukan mikroorgnisme yang jarang namun juga ditemukan pada saluran intestinal, kulit normal manusia dan dapat sebagai kontaminan di udara.
 DOM Martin :892
Jika lapisan epitel sesekali rusak, mata tidak aka nada pertahanan dan organism memasuki kornea secara bebas dan menyebabkan infeksi. Satu organisme yang sangat berbahaya dan mikroorganisme opurtunis yang sebenarnya tumbuh dalam kornea lebih baik dari semua media lain yang dikenal adalah P.aeruginosa. Oleh karena itu, ada 2 standar untuk sediaan mata yang direkomendasikan :
• Untuk mata yang bagian epitel kornea belum rusak, larutan steril dikemas dalam wadah dosis ganda untuk penggunaan dirumah menggunakan penetes tunggal, sedangkan dalam klinik dokter dipisahkan penetes steril untuk tiap pasien.
• Untuk bagian epitel kornea yang telah rusak, digunakan unit kecil yang mengandung larutan steril untuk penggunaan pasien tunggal.

Kesimpulan :
Jika lapisan epitel kornea rusak maka mikroorganisme dapat masuk secara bebas dan akhirnya dapat menyebabkan infeksi. Namun, air mata tidak mengandung antibody atau mekanisme untuk memproduksinya. Mekanisme sederhana untuk melawan infeksi mata adalah melalui pencucian dengan air mata dan dengan adanya enzim dalam air mata yaitu lizosim. Namun ada satu mikroorganisme yan tidak dapat di pengaruhi oleh enzim lizosim tersebut, sehingga mikroorganisme ini dapat menyebabkan infeksi dan parahnya dapat menyebabkan kebutaan 24-48 jam. Sehingga untuk sediaan mata haruslah steril untuk bisa mengatasi hal tersebut.




14. Cara pembuatan salep mata
 FI III : 20
Bahan obat ditambahkan sebagai larutan steril adalah sebagai serbuk steril termikronisasi pada dasar salep, hasil akhir dimasukkan secara aseptis dalam tube steril. Bahan obat dan dasar salep disterilkan dengan cara yan cocok.
 Scoville’s : 357
Salep mata dibuat dengan menggunakan salah satu dari 2 metode berikut:
Jika bahan obat larut dalam air dan membentuk larutan stabil maka bahan obat dilarutkan dalam jumlah minimum air untuk injeksi. Larutan yang dihasilkan kemudian digabungkan dengan basis yang telah dilebur dan campuran diaduk terus menerus sampai mengental.
Jika bahan obat tidak segera larut dalam air, maka bahan obat dimikronisasi sampai menjadi serbuk yang sangat halus dengan melevigasinya dengan sejumlah kecil basis. Campuran yang dihasilkan digabungkan dengan sisa basis.
 Ansel : 562
Zat obat ditambahkan ke dalam dasar salep, apakah dalam bentuk larutan adalah dalam bentuk serbuk yang dibuat halus sekali sampai ukuran mikron lalu obat dicampur sampai sempurna dengan dasar salep dan biasanya memakai penggiling.
 Parrot : 369
Salep mata membutuhkan obat yan dimikronisasi atau dalam larutan. Metode ini baik dilakukan untuk menghasilkan salep mata yang steril. Pada umumnya obat-obat steril ditambahkan secara aseptis ke dalam basis steril. Setelah campuran salep homogen, dimasukkan ke dalam tube steril secara aseptis.
 Text Book of Pharmaceutics :363
Bahan obat yang larut air dilarutkan dalam sejumlah kecil air murni, larutan ini disterilkan melalui pemanasan pada otoklaf atau filtrasi dan larutan steril ditambahkan / dicampurkan dalam campuran larutan yang sebelumnya basis telah disterilkan melalui stirring hingga dingin dan pengerjaan secara aseptis. Sediaan / preparasi kemudian dipindahkan tube salep mata yang telah disterilkan sebelumnya dan segera ditutup sehingga terhindar dari mikroorganisme. Bahan yang digunakan dalam salep mata adalah termolabil dan dalam keadaan seperti itu filtrasi digunakan untuk sterilisasi.
Untuk bahan obat tidak larut. Pada metode ini, bahan obat yang serbukkan dan ditriturasi dengan sejumlah kecil dari larutan, basis yang sebelumnya telah disterilkan. Campuran kemudian ditambahkan dengan sisa campuran basis dan salep mata dipindahkan dalam tube salep steril yang segera ditutup sehingga terhindar dari mikroorganisme. Ini khusus untuk bahan obat-obat tidak larut diserbukan dahulu sehingga mencegah kemungkinan partikel berair dari obat masuk dalam mata.

Kesimpulan :
• Bahan obat yang larut air dilarutkan dengan sejumlah kecil aqua pro injeksi, larutan dicampur dengan basis yang telah dilelehkan dan campuran di aduk terus menerus hingga kental.
• Bahan obat yang tidak larut, harus dihaluskan bahannya hingga benar-benar halus dan cara digiling dengan penggiling (industri)atau termikronisasi kemudian bahan obat ditriturasi dengan sejumlah kecil dari basis yang dicairkan yang telah disterilkan terlebih dahulu. Hasil campuran kemudian dicampur dengan sisa basis. Pengerjaan dilakukan seaseptik mungkin.

15. Cara memasukkan salep mata ke dalam tube
 Ansel : 511
- Salep mata yang telah dibuat digulung diatas kertas perkamen menjadi bentuk silinder, diameter silinder sedikit lebih kecil dari tube supaya dapat diisikan dengan panjang kertas yang lebih dari silinder.
- Dengan tutup dari tube dilepas supaya udara keluar, silinder dari salep dengan kertas dimasukkan ke dalam bagian ujung-ujung bawah tube yang terbuka.
- Potongan kertas yang meliputi salep dipegang oleh satu tangan sedang lainnya menekan dengan spatula yang berat kea rah tutup tube sampai tube tadi penuh, dan sambil menarik perlahan-lahan kertas salep tadi dilepaskan. Ratakan permukaan salep dengan spatula, kurang lebih ½ inchi dari ujung bawah.
- Bagian bawah yang disisakan lipatan 2 kali dan dibuat dari ujung bawah tube yang dipipihkan, ditekan / dijepit penyegel tepat diatas dilipatan untuk menjamin sudah betul-betul tertutup. Penjepit dapat digunakan dengan tang tangan atau dengan mesin lipatan (crimper) yang dijalankan dengan tangan atau kaki.
 Scoville’s : 361
Cara yang paling mudah untuk mengisi tube untuk menempatkan salep pada sepotongan kertas perkamen kemudian lipat kertas sehingga ke 2 ujungnya bertemu dengan menempatkan batang pengaduk pada ujung lipatan dan menggulung kertas ke bagian bawah lipatan, salep dalam kertas di tekan jadi bentuk silinder, kertas tube kemudian dimasukkan pada bagian belakang yang terbuka besar dari tube yang dapat dilipat dan ketika kertas ditarik keluar melalui jari, salep akan tertahan dan tertinggal di dalam tube. Pada saat memasukkan salep penutup dari tube harus dibuka untuk memungkinkan pengisian yang sempurna. Tube seharusnya diisi sampai jarak 1 inchi dari ujung tube sehingga memberikan tempat untuk penutupan tube. Penutupan dilakukan dengan meratakan dasar salep dengan spatula dan melipatnya lebih dari 2 kali dan menjaganya dengan penjepit khusus tube salep yang dilakukan dengan sepasang pinset.

Kesimpulan :
Cara yang paling mudah untuk mengisi tube untuk menempatkan salep pada sepotongan kertas perkamen kemudian lipat kertas sehingga ke 2 ujungnya bertemu dengan menempatkan batang pengaduk pada ujung lipatan dan menggulung kertas ke bagian bawah lipatan, salep dalam kertas di tekan jadi bentuk silinder, kertas tube kemudian dimasukkan pada bagian belakang yang terbuka besar dari tube yang dapat dilipat dan ketika kertas ditarik keluar melalui jari, salep akan tertahan dan tertinggal di dalam tube

16. Pewadahan salep mata
 Ansel : 563
Setelah pembuatan salep mata ini dimasukkan ke dalam tube yang terbuat dari plastik atau timah dimana sebelumnya telah dibuat steril. Tube-tube ini khas kecil, yang isinya kurang lebih 3,5 gram salep dan dicocokkan dengan ujungnya berliku sempit yang memungkinkan lompatan segumpal kecil salep. Hal ini sesuai untuk menempatkan salep pada garis tepi kelopak mata, suatu tempat yang biasa dalam pemakaian obat. Hal ini harus dikerjakan tanpa menyentuh mata.
 Scoville’s : 360
Wadah yang paling baik untuk penyimpanan salep adalah gelas yang berwarna kuning atau hijau Wadah ini disebut tabung atau plat dan tersedia dalam kisaran yang luas dari ½-160. Wadah disini disesuaikan dengan komposisi dari tutup alir logam dan garis yang tidak reaktif, sehingga tabung dapat ditutup dengan rapat.
Ketika mengisi tabung salep, ahli farmasi harus menjaga agar terkemas seragam khususnya untuk menghindari kantung-kantung udara. Ketika pengisian tabung sempurna, permukaan dari salep harus dilembutkan, secara berhati-hati dengan spatula membentuk permukaan yang cekung. Hal ini menghasilkan penampakan yang rapi dengan mencegah kontak salep dengan tepi ulir.
Kaleng salep kadang-kadang digunakan untuk menyimpan, dan membagi salep tetapi penggunaannya tidak direkomendasikan. Sangat banyak obat dan reaksi logam lalu dan salep menjadi kehilangan warnanya. Wadah tanah liat kadang-kadang digunakan untuk menyimpan salep. Meskipun tidak sama baiknya dengan wadah, jelas karena biasanya berpori dan jika salep disimpan dalam wadah tanah liat, tempatnya tidak mudah dibersihkan.
Tube kaleng yang dilipat adalah wadah yang sangat baik untuk menyimpan salep yang sangat lembut yang tidak reaktif. Meskipun kekerasan dan kekentalan salep tidak harus disimpan dalam wadah ini. Tube tersedia dalam variasi yang luas (ukuran) untuk salep yang umum sebagai tambahan tube dan penggunaan khusus untuk penggunaan salep mata, hidung, dan vagina yang tersedia.
 Text Book of Pharmaceutics : 363
Salep mata biasanya disimpan dalam tube logam atau plastik yang dilipat atau dalam wadah dosis tunggal. Tube plastik biasanya digunakan beberapa formulasi dari salep mata, tapi tidak ada standar wadah kosong untuk tipe ini tersedia untuk maksud khusus.
Tube logam yang biasa dilipat sejauh mungkin dibebaskan dari debu dan partikel logam sebelum penggunaan mungkin paling baik dicapai melalui meniup dengan kuat dari filter, udara bebas debu. Pencucian tube kurang efektif dan seringkali pertikel bertambah lebih banyak daripada yang dihilangkan. Ini mungkin ditemukan, dengan kahadiran metode pembuatan, ini tidak mungkin menghasilkan tube logam yang bisa dilipat yang sama sekali bebas partikel disemua partikel tidak hilang untuk pembersihan.
Formulasi dari salep mata tersedia dalam dosis tunggal. Ini bentuknya lonjong, kapsul gelatin fleksibel dengan satu ujung mengerut, dan dibuka melalui pemutusan urutan akhir yang digunting steril. Wadah/kemasan salep mata, sebelum disalurkan, sebainya pada tutupnya dilampirkan wadah atau kemasan mudah pecah untuk menunjukkan bahwa belum dibuka sebelumnya. Ini dapat berupa kertas tertutup atau amplop plastik atau karton tertutup.
 Modern pharmaceutics : 522
Salep mata ditempatkan dalam tube kaleng kecil, biasanya berukuran 3,5 gram. Tube kaleng dapat digunakan pada hamper semua obat dalam basis salep petrolatum. Tube aluminium dipertimbangkan dan mungkin digunakan karena harga-harganya yang murah dan sebagai alternative bahan baku kaleng menjadi sebuah masalah.Selama pengisian tube menguntungkan, tube aluminium menjadi pilihan ke dua dalam pewadahan. Tube plastik dibuat dari resin LDPE yang fleksibel juga dipertimbangkan sebagai bahan alternative tapi tidak mengempis dan cenderung menarik/menghisap kembali salep. Tube plastic baru-baru ini diperkenalkan sebagai wadah untuk pasta gigi telah diteliti dan menjadi alternatif terbaik daripada kaleng. Tube ini merupakan lapisan plastic dan bahan lain seperti kertas, kertas perak/timah dan sebagainya.
Sebuah tube dapat didesain melalui seleksi lapisan bahan-bahan disusun dan dibuat untuk menyediakan kebutuhan kompatibilitas, sterilitas dan barier.
Variasi tipe tube logam disegel menggunakan lapisan adesif hanya menutupi bagian dalam dari dasar tube terbuka untuk membentuk lipatan yang tidak memiliki kontak dengan produk. Tube yang dilapisi biasanya disegel dengan panas. Lipatan biasanya terdiri dari banyak kode dan tunggal kadaluarsa.

Kesimpulan :
Salep mata dapat diwadahkan dalam :
- Tube kaleng
- Tube aluminium
- Tube plastic
Tube-tube pada salep isinya ± 3,5 gram.
II.1.21. Cara Pengujian Salep mata
● FI IV; 1086
Uji Kebocoran Salep mata
Pilih 10 tube salep mata dengan segel khusus jika disebutkan. Bersihkan dan keringkan baik-baik permukaan luar tiap tube dengan kain penyerap. Letakkan tube pada posisi horisontal di atas lembaran kertas penyerap dalam oven dengan suhu yang diatur pada 60o ± 3oC selama 8 jam. Tidak boleh terjadi kebocoran yang berarti selama atau setelah pengujian selesai, abaikan bekas salep yang diperkirakan berasal dari bagian luar dimana terdapat lipatan dari tube atau dari bagian ulir (tutup tube). Jika terdapat kebocoran pada 1 tube tapi tidak lebih dari 1 tube, ulangi pengujian dengan tambahan 20 tube salep. Pengujian ini memenuhi syarat jika tidak satu pun kebocoran dari 10 tube uji pertama atau kebocoran yang diamati tidak lebih dari 1 atau 30 tube yang diuji.

● RPS 18 th; 1585
a. Uji Partikel dan Ukuran
Undang-undang resmi dapat disetujui untuk partikel yang berbeda yang mungkin terdapat dalam salep mata. Dalam uji ini, keluarkan isis dari 10 tube salep pertama-tama lebur dalam cawan petri, kemudian biarkan memadat memberikan suatu uji yang dirancang untuk membatasi tingkat yang dipertimbangkan untuk jumlah atau ukuran yang. Lalu diamati dengan mikroskop berkekuatan rendah yang dilengkapi dengan mikrometer dan lensa okuler untuk partikel yang berukuran 50 µm atau lebih dalam beberapa dimensi. Pengujian memenuhi syarat jika jumlah total dari partikel logam dalam 10 tube tidak lebih dari 50 g atau tidak lebih dari 1 tube ditemukan mengandung 8 partikel yang sama
b. Uji Sterilitas
Uji sterilitas dari salep mata dilakukan dengan uji steril atau membran yang menahan bakteri dengan nilai porositas 0,45 atau 0,22 µm. untuk salep yang larut dalam isopropil miristat (pelarut yang digunakan secara resmi untuk uji sterilitas). Sampel salep dilarutkan dalam pelarut untuk tes steril. Untuk salep yang tidak larut dalam isopropil miristat, disuspensikan pada pembawa berair yang cocok yang mengandung bahan pendispersi dalanm prosedur umum yang konvensional

● MP; 523
Tube berisi dapat diuji kebocoran dengan menempatkan mereka pada posisi horizontal dalam oven pada 60 C selama 8 jam. Tidak boleh ada bukti kebocoran, kecuali jika berasal dari kerutan tube atau tutup tube.

Kesimpulan:
Cara pengujian salep mata, antara lain :
1. Uji kebocoran
2. Uji Sterilitas
3. Uji partikel dan ukuran

II.1.22. Perbedaan levigasi dan triturasi
● Scoville’s; 353
Triturasi merupakan metode yang sering digunakan dalam peresepan. Biasanya disebut metode lumpang, digunakan untuk pulverasi dan pencampuran, dan secara praktek kombinasi serbuk bisa dicampur dengan lumpang dan alu jika membutuhkan teknik yang perlu. Untuk pulverasi lumpang dan alu, wedgwood lebih sering digunakan.
Levigasi merupakan proses yang bertujuan untuk menyiapkan salep lembut. Bisa diartikan sebagai sebuah proses dimana bahan padatan ditriturasi dengan cairan dimana bahan tersebut tidak larut, yang membuatnya akhirnya terbagi dan menyebabkan kurangnya keadaan seperti berpasir dalam salep. Contoh yang tepat dalam proses ini adalah pembuatan salep yang mengandung ZnO.

II.1.23. Ruang-ruang produksi steril
● FI IV; 1116
Fasilitas meliputi sistem sawar primer (di dekat tempat bahan terpapar) dan sekunder (tempat proses aseptik berlangsung). Untuk fasilitas proses aseptik dan lingkungan tempat pengisian secara aseptik yang didesain dengan baik, berikan perhatian untuk bagian yang penting, seperti permukaan tidak berpori dan licin, termasuk dinding dan langit-langit hingga dapat secara berkala disanitasi; tempat ganti pakaian kerja dengan ruangan yang cukup memadai untuk pekerja dan menyimpan pakaian yang steril; pemisahan yang memadai antara ruang persiapan bagi pekerja dan ruang proses aseptik, jika perlu tersedia perlengkapan tertentu seperti ruang tertutup, kedap udara dan penyemprotan udara, perbedaan tekanan yang sesuai antarruangan, tekanan yang paling positif adalah ruangan atau lingkungan proses aseptik; penggunaan ruang bersih (satu arah) di tempat yang paling dekat dengan produk atau komponen yang terpapar dan aliran udara tersaring ke tempat tersebut, dengan frekuensi pergantian udara yang cukup; kelembaban yang sesuai dan pengendalian suhu lingkungan; dan satu program sanitasi dan terdokumentasi.

II.1.24. Contoh-contoh sediaan mata
● Ansel; 557
Larutan obat mata Produk dagang sesuai [ ] zat aktif Keterangan

Adrenergik
Larutan Obat Mata Epinefrin bitartrat

Larutan Obat Mata Nafazolin HCl

Larutan Obat Mata Feniefrin HCl

Anestetika
Larutan Obat Mata Prokain HCl
Larutan Obat Mata Tetrakain HCl






Antibakteri
Larutan Obat Mata Kloramfenikol
Larutan Obat Mata Gentamisin Sulfat
Larutan Obat Mata Natrium Sulfasetamid


Antikolinergik
Larutan Obat Mata Atropin Sulfat

Larutan Obat Mata Homatropin HBr

Larutan Obat Mata Skopolamin HBr

Larutan Obat Mata Tropikamid


Antiviral
Larutan Obat Mata Idoksuridin

Larutan Obat Mata Zink Sulfat







Antiinflamasi
Larutan Obat Mata Deksametason Natrium Fosfat
Larutan Obat Mata Prednisolon Natrium Fosfat

Kolinergik
Larutan Obat Mata Karbakol


Larutan Obat Mata Pilokarpin HCl






Larutan Obat Mata Fisostigmin Salisilat




Protektan
Larutan Obat Mata Metilselulosa

Epitrate Ophthalmik Solution (Ayerst)

Naphcon Forte Ophthalmic Solution (Alcon)
Mydfrin Ophthalmic Solution (Alcon)


Ophthaine Ophthalmic Solution (Squibb)
Anacel Sterile Ophthalmic Solution (Professional Pharmacal)




Ophthochlor Ophthalmic Solution (Parke Davis)
Garamycin Ophthalmic Solution (Schering)
Sodium Sulamyd Ophthalmic Solution (Schering)



Isopto Atropin Ophthalmic Solution (Alcon)
Isopto Homatropine Ophthalmic Solution (Alcon)
Isopto Hyoscine Ophthalmic Solution (Alcon)
Mydriacyl Ophthalmic Solution (Smith Kline & French)


Stoxil Ophthalmic Solution (Smith Kline & French)
Bufopto Zinc Sulfate Ophthalmic Solution (Professional Pharmacal)






Decadron Phosphate Ophthalmic Solution (Merck Sharp & Dohme)
Metreton Ophthalmic Solution (Schering)



Isopto Carbachol Ophthalmic Solution (Alcon)

Isopto Carpine Ophthalmic Solution (Alcon)





Miocel Sterile Ophthalmic Solution (Professional Pharmacal)



Methopto Sterile Ophthalmic Solution (Professional Pharmacal)

2 %


0,1 %


2,5 %



0,5 %

0,5 %







0,5 %

0,3 %

10 dan 30%




0,125- 4%


2 – 5%


0,25 %


0,5 – 1%




0,1 %


0,25 %









0,1 %


0,55 %




0,75 – 3 %



0,25 –10%







0,25–0,5%






0,25; 0,5; dan 1 %

Digunakan dalam mengatur glaukoma kronik yang biasa (sudut terbuka)
Digunakan sebagai vasokontriktor mata topikal

Digunakan sebagai vasokontriktor dan midriatik.




Anestetik lokal dengan kerja cepat






Digunakan untuk infeksi permukaan mata karena m.o yang rentan

Dipakai dalam pengobatan konjungtivitis, ulser (tukak) kornea, infeksi permukaan mata karena m.o yang rentan







Untuk menghasilkan midriasis dan sikloplegia







Untuk pengobatan Keratitis herpes simpleks

Dipakai untuk konjungtivitis dan catarrhal konjingtivitis (mata merah muda) disebabkan Pneumococcus atau basil Koch-Weeks seperti juga infeksi m.o nonspesifik




Melawan peradangan karena sebab mekanis, kimia, atau imunologik.




Mengurangi tekanan intraokular pada glaukoma dengan sudut terbuka atau sudut sempit
Dipakai sebagai miotik dalam pengobatan glaukoma, terutama glaukoma dengan sudut terbuka. Juga dipakai untuk menetralkan midriasis yang menyertai tindak operasi atau pemeriksaan mata.
Antikolenestrase miotik dengan kerja pendek dipakai untuk mengurangi ketegangan intraokular pada glaukoma.


Larutan pengawet dipak sebagai air mata tiruan pada pengobatan mata dan juga sebagai larutan lensa kontak.













II.2 Dasar Formulasi
A. Alasan Formulasi
a. Farmakologi Dasar dan Klinik; 42
Tetrasiklin HCl lebih mudah larut, larutan-larutan semacam ini bersifat asam dan cukup stabil, kecuali klortetrasiklin
b. Remington's Pharmaceutical Science, 18th Edition; 1583
Salep mata tetrasiklin dibuat dalam bentuk garamnya karena banyak obat mata adalah basa lemah dan digunakan untuk mata sebagai larutannya dalam bentuk garamnya. Basa bebas dan garam akan berada dalam kesetimbangan dimana bergantung pada pH dan karateristik individu dan senyawa. Untuk tujuan kestabilan dan kelarutan pada penyimpanan obat mungkin asam pada saat penggunaan tetapi aksi netralisasi dari aliran maksimal akan segera cepat ke range pH fisiologi sekitar pH 7,4 dimana akan cukup basa bebas untuk memulai penetrasi pada epitel kornea.
c. Martindale The Complete Drug Reference, 32nd Edition e-book
Tidak digunakan doksisiklin karena sebagai salep mata doksisiklin secara normal diberikan melalui mulut.
d. Scoville's:The Art of Compounding; 520
Tetrasiklin HCl larut dalam air dan alkohol dan membentuk larutan asam yang terhidrolisis dan menjadi keruh.


e. Farmakologi dan Terapi edisi V; 694
Tetrasiklin merupakan basa yang sukar larut dalam air, tetapi bentuk garam HClnya mudah larut. Dalam keadaan kering, bentuk basa dan garam HCl tetrasiklin bersifat relative stabil. Dalam larutan, Kebanyakan tetrasiklin sangat labil sehingga cepat berkurang potensinya.
B. Alasan Penggunaan Bahan
1. Tetrasiklin HCl
- Indikasi
a. Farmakologi dan Terapi edisi V; 697
Pemakaian topical hanya dibatasi untuk infeksi mata saja. Salep mata golongan tetrasiklin efektif untuk mengobati trachoma dan infeksi lain pada mata oleh kuman gram positif dan gram negatif yang sensitif. Selain itu salep mata ini dapat pula digunkan untuk profilaksis ophtalmia neonatorum pada neonatus.
b. Obat-Obat Penting edisi V; 75
Spektrum kerjanya luas dan meliputi banyak Cocci gram positif dan gram negatif serta kebanyakan basil, kecuali Pseudomonas dan Proteus. Begitu pula aktif terhadap mikroba khusus seperti Chlamidia trachomatis (penyebab penyakit mata trachoma dan penyakit kelamin PID), Ricketsia (Scrubtyphus), Spirokheta (sifilis, framboesia), leptospirae (penyakit Weil), Actinomyces dan beberapa protozoa (amuba).
c. AHFS Drug Information e-book
Tetrasiklin digunakan dalam pengobatan infeksi yang disebabkan Ricketsia, Chlamidia, Mycoplasma, dan jenis bakteri gram positif dan gram negatif yang tidak umum.
d. Martindale The Complete Drug Reference 32thedition e-book
Tetrasiklin telah digunakan secara topical pada pengobatan infeksi Chlamidia dari mata.
e. Dinamika Obat V; 647
Tetrasiklin bekerja pada semua mikroba yang peka terhadap Penisilin, bakteri gram negatif, Mycoplasma, Spirokhaeta, dan Leptospira, Ricketsia, Chlamydia.
- Mekanisme kerja
a. Obat-obat Penting V; 75
Mekanisme kerjanya berdasarkan diganggunya sintesa protein kuman. Spektrum kerjanya luas dan meliputi banyak cocci gram (+) dan gram (-) serta kebanyakan bacilli kecuali Pseudomonas dan Proteus.
b. Dinamika Obat ; 650
Mekanisme kerjanya yaitu hambatan pada sintesis protein ribosom yaitu dengan menghambat pemasukan asil t-RNA pada fase pemanjangan yang termasuk fase translasi. Ini akan menyebabkan blockade perpanjangan rantai peptide.

c. Farmakologi dan Terapi V; 694
Golongan tetrasiklin menghambat sintesis protein bakteri pada ribosomnya. Paling sedikit terjadi 2 proses dalam masuknya antibiotik ke dalam ribosom bakteri gram negatif, pertama secara difusi pasif melalui kanal hidrofilik, kedua melalui sistem transport aktif. Setelah masuk antibiotic berikatan secara reversibel dengan ribosom 30S dan mencegah ikatan t-RNA aminoasil pada kompleks mRNA-ribosom. Hal tersebut mencegah perpanjangan rantai peptide yang sedang tumbuh dan berakibat terhentinya sintesis protein.
d. AHFS Drug Information e-book
Tetrasiklin menghambat sintesis protein dengan berikatan secara reversibel pada sub unit ribosom 30S. Penghambatan pengikatan t-RNA amino asil atau amino asil t-RNA pada ribosom itu. Lagipula tetrasiklin juga berikatan secara reversibel dengan sub unit ribosom 50S. Tetrasiklin juga bias mengganggu membrane sitoplasma dari organisme yang menyebabkan nukleotida dan komponen intraseluler lain pada suatu sel.
e. Farmakologi Ulasan Bergambar; 315
Masuknya obat ini dalam organisme yang rentan diperantarai oleh transport protein kedalam membran sitoplasma bakteri. Pengikatan obat ke sub unit 30S ribosom bakteri dipercaya dapat menghambat akses perubahan amino asil t-RNA menjadi kompleks ribosom mRNA di akseptor, sehingga menghambat sintesis protein bakteri.
- Dosis
a. Farmakologi dan Terapi V; 699
Tetrasiklin sebagai salep mata atau obat tetes mata 1%
b. Martindale The Complete Drug Reference, 32nd Edition e-book
Tetrasiklin HCl digunakan 1% sebagai salep mata
c. Remington's Pharmaceutical Science, 18th Edition; 1215
Sebagai salep mata 1%
d. Obat-Obat Penting; 77
Salep mata 1%
e. AHFS Drug Information; 2865
Larutan topical 0,22%
Salep 3%
- Efek samping
a. Informasi Spesialite Obat 2007; 450
Pada individu tertentu dapat menimbulkan reaksi alergi seperti urtikaaria, edema palpebra serta menjadi peka terhadap cahaya (fotosensitasi kulit)
b. Farmakologi dan Terapi V; 697
Reaksi kulit yang mungkin timbul akibat pemberian golongan tetrasiklin ialah erupsi mobiliformis, urtikaria dan dermatitis eksfoliuatifa. Reaksi yang lebih hebat ialah edema angioneuritik dan reaksi anafilaksis. Demam dan eosinofilia dapat pula terjadi waktu terapi berlangsung. Sensitasi silang antara berbagai derivate tetrasiklin sering terjadi.
c. AHFS Drug Information; 404
Reaksi hipersensitivitas seperti berbagai bentuk erithema.
d. Martindale The Complete Drug Reference, 32nd Edition e-book
Reaksi alergi dari tetrasiklin dan analoginya telah dilaporkan, sensitasi silang diantara tertasiklin sudah umum terjadi, fotosensitivitas dari kulit dan kuku.
e. Obat-Obat Penting Edisi V; 76
Efek samping lain yaitu fotosensitasi yaitu kulit menjadi kemerahan, gatal-gatal dan sebagainya, maka selama terapi dengan tetrasiklin hendaknya jangaan terkena sinar matahari yang kuat.
- Kontraindikasi
a. Farmakologi Ulasan Bergambar; 318
Tetrasiklin tidak boleh diberikan pada perempuan hamil dan menyusui serta anak dibawah umur 8 tahun
b. British National Formulary 54th edition e-book
Tetrasiklin tidak boleh diberikan pada anaak-anak di bawah 12 tahun atau pada wanita hamil atau menyusui
c. Informasi Spesialit Obat 2007; 450
Penderita yang alergi terhadap tetrasiklin

d. Dinamika Obat;1097
Penderita-penderita yang hipersensitif terhadap tetrasiklin.
2. Alfa Tokoferol (Antioksidan)
Alasan Penggunaan Antioksidan
a. Scoville’s The Art of Compounding; 341
Vaselin distabilkan dengan penambahan sejumlah alfa tokoferol.
b. RPS 18th; 1310
Karena sebelum dimurnikan, paraffin cenderung teroksidasi dan menimbulkan bau yang tak sedap. Ini dicegah dengan pemakain alfa tokoferol.
Macam-macam Antioksidan
Berdasarkan mekanisme kerjanya, antioksidan dapat dibagi menjadi: (Kenneth;99)
- sebagai senyawa pengkhelat untuk ion logam atau merupakan senyawa yang akan membentuk kompleks dan mengikat ion logam yang bersifat mengionisasi suatu radikal bebas. Agen pengkhelat yang bekerja sebagai antioksidan dengan mengikat ion metal, misalnya etilen diamin tetra asetat (EDTA), asam sitrat, beberapa asam amino asam fosfor, asam tartrat.
- sebagai reduktor, yaitu mereduksi bahan pengoksidasi. Sodium tiosulfat dan asam askorbat adalah 2 agen pereduksi yang telah digunakan.
- terminator rantai, yaitu bahan yang mampu bereaksi dengan radikal dalam larutan untuk membentuk senyawa baru rantai radikal terminal yang tidak masuk kembali ke dalam siklus preparasi radikal. Radikal baru secara intrinsik stabil atau dapat untuk membentuk molekul netral. Mekanisme alfa tokoferol sebagai antioksidan yaitu berdasarkan mekanisme kerja. Berdasarkan diskusi terakhir tentang antioksidan. Contohnya adalah bisulfin dan fenol.
- senyawa yang teroksidasi lebih dahulu, yaitu bahan yang lebih cepat dioksidasi daripada bahan yang dilindungi.misalnya sodium bisulfit dan asam askorbat.
c. The Theory and Practise of Industrial Pharmacy, Third Edition; 1066
Mekanisme ketengikan
Ketengikan yang dapat mempengaruhi hampir semua minyak dan lemak adalah istilah yang terkenal luas dan mencakup berbagai macam bau tak sedap yang terbentuk melalui autooksidasi asam lemak tidak jenuh yang ada dlam minyak/lemak. Bau yang khas ini disebabkan oleh senyawa atsiri yang terbentuk pada oksidasi minyak dan lemak. Bau yang khas ini disebabkan oleh senyawa atsiri yang terbentuk pada oksidasi minyak dan lemak. Senyawa atsiri ini umumnya monomer berantai pendek yang terbentuk melalui pemecahan hidropolisakarida yang tidak menguap yang merupakan hasiloksidasi primer. Mekanisme radikal bebas yang tertera disini menggambarkan oksidasi minyak dan lemak yang terjadi dengan adanya oksigen, udara, cahaya, dan sejumlah kecil katalisator. oksigen, udara, cahaya, dan sejumlah kecil katalisator.
R’-CH2-CH CH-R” + O2 R’-CH-CH CH-R” +H2O
O O
R’-CH2-CH CH-R” + O2 R’-CH-CH CH-R”

O O
R-CH-CH CH-R” + R’-CH2-CH CH-R”
O O
R-CH-CH CH-R” + R’-CH2-CH CH-R” + R’-CH-CH CH-R”
O OH
2R’-CH-CH CH-R” R’-CHO + R”-CH CH + OH
Hidroperoksida tidak menguap
R”-CH CH-CHO-R’ + OH
menguap atau
O
2R’-C-CH CH-R” + 2OH

Alasan Penggunaan Alfa Tokoferol
a. Scoville’s The Art of Compounding; 341-342
Campuran yang telah dimurnikan dan hidrokarbon semisolid diperoleh dari petrolatum. Ini distabilkan dengan penambahan DL-α-tokoferol.
Lemak bulu domba mempunyai 2 kerugian yaitu karakteristik dan baunya dan kecendrungannya untuk menjadi tengik ketika terpapar pada cahaya, udara dan kelembaban selama periode waktu yang lama meskipun digunakan dalam konsentrasi 5-25% dalam basis berminyak lainnya, baunya tidak menyenangkan.
b. Handbook of Pharmaceutical Excipient e-book
Konsentrasi sebagai antioksidan 0,001%-0,05%.
c. The Theory and Practise of Industrial Pharmacy, Third Edition; 1066
Konsentrasi α-tokoferol 0,001%-0,1%.
• Bahan pengkhelat adalah ion logam pemicu reaksi oksidasi radikal bebas.
• Bahan pereduksi yaitu bahan-bahan yang mereduksi obat-obat yang teroksidasi
• Senyawa-senyawa yang teroksidasi terlebih dahulu yaitu bahan-bahan yang lebih cepat dioksidasi daripada bahan yang dilindungi
• Terminator rantai yaitu bahan yang mampu bereaksi dengan radikal dalam larutan untuk menghasilkan jenis baru, rantai radikal terminator yang tidak masuk kembali ke dalam siklus preparasi radikal.
3. Klorobutanol
Alasan Penggunaan Pengawet
a. Remington's Pharmaceutical Science, 18th Edition; 1585
Salep mata harus mengandung bahan yang cocok atau campuran bahan untuk mencegah pertumbuhan atau menghancurkan mikroorganisme yang ada ketika wadah dibuka selama pemakaian. Bahan antimikroba yang biasa digunakan adalah klorobutanol, parabens atau merkuri organik.
b. Scoville’s The Art of Compounding; 237
• Penghambat yang baik untuk organisme gram positif dan gram negative termasuk P.aeruginosa sebaik beberapa jamur.
• Mempunyai range yang luas dalam kebercampuran
• Merupakan larutan asam yang stabil dengan pembatasan yang telah disebutkan sebelumnya.
• Sedikit atau tidak mengiritasi
• Tidak mengiritasi ketika dimaukkan ke dalam anterior mata.
Alasan Digunakan Klorbutanol
a. Handbook of Pharmaceutical Excipient e-book
• Klorbutanol secara luas digunakan sebagai pengawet pada sediaan farmasetik sebagian besar pada sediaan mata. Konsentasi yang digunakan sebagai pengawet pada sediaan mata adalah 0,5%. Klorbutanol aktif melawan bakteri gram positif dan gram negatif dan beberapa jamur seperti Candida albicans, Pseudomonas aeruginosa, dan Staphylococcus albus.
• Metil paraben dan beberapa paraben lainnya digunakan secara luas sebagai pengawet pada kosmetik dan oral serta sediaan topikal tetapi sekarang dianggap tidak cocok digunakan untuk tipe formulasi sediaan mata karena berpotensi menyebabkan iritasi.
4. Basis
Alasan Penggunaan Basis
- Lanolin anhidrat
a. Scoville’s The Art of Compounding; 354
Banyak antibiotic memburuk dalam larutan berair, khususnya ketika tidak mengandung buffer. Mereka berupa garam dari penisilin, tetrasiklin, klortetrasiklin, oksitetrasiklin dan basitrasin. Meskipun neomisin, throthrisin dan polimiksin B relatif stabil dalam air pada salep. Ketika antibiotic tidak stabil dalam air dan dibuat salep, sangat baik menggunakan basis anhydrat. Antibiotic dilevigasi dengan sejumlah kecil petrolatum cair dan lalu dicampurkan ke dalam basis anhidrat.
b. Remington's Pharmaceutical Science, 18th Edition; 1314
Banyak salep mata dibuat dengan basis dari petrolatum putih dan minyak mineral sering kali dari lanolin anhidrat.
c. Handbook of Pharmaceutical Excipient e-book
Lanolin digunakan dalam formula sediaan topical dan kosmetik. Lanolin dapat digunakan sebagai pembawa hidrofobik dan dalam preparat krim air dalam minyak dan salep mata. Jika dicampur minyak sayur yang cocok atau paraffin lembut menghasilkan bahan krim yang berpenetrasi ke kulit dan menyebabkan terabsorpsi
- Parafin Cair
a. Pharmaceutical Technology Fundamental Pharmaceutics; 369
Sebuah salep mata yang lembut dapat dihasilkan dari penambahan paraffin cair ke vaselin
b. Scoville’s The Art of Compounding; 342
Jika diinginkan 10% dari vaselin kuning dapat digantikan dengan paraafin cair untuk menghasilkan salep yang lebih lembut.
c. Handbook of Pharmaceutical Excipient e-book
Konsentrasi untuk salep mata 3-60%
- Vaselin kuning
a. Pharmaceutical Technology Fundamental Pharmaceutics; 369
Petrolatum adalah basis yang paling sering digunakan dalam salep mata karena petrolatum stabil dan dapat dihasilkan dengan 2 jam terpapar 170oC. Salep mata yang lembut dapat dihasilkan dengan penambahan minyak mineral dalam petrolatum.
b. Prescription Pharmacy, 2nd Edition; 249
Banyak salep mata dibuat dengan basis petrolatum, basis minyak petrolatum mineral atau basis petrolatum- lanolin.
c. Remington's Pharmaceutical Science, 18th Edition; 1310
Petrolatum merupakan campuran murni yang mengandung hidrokarbon setengah padat. Pada penggunaan luas petrolatum digabung dengan minyak mineral sehingga diperoleh petrolatum murni.Dari penggabunggan ini menyebabkan hilangnya antioksidan secara alami, sehingga perlu ditambahkan α-tokoferol atau antioksidan lainnya.
d. Handbook of Pharmaceutical Excipient e-book
Vaselin digunakan utamanya dalam formulasi sediaan topical sebagai emollient basis salep konsentrasi hingga 100%
Alasan Kombinasi Basis
a. Prescription Pharmacy, 2nd Edition; 249
Banyak salep mata disiapkan dengan basis petrolatum, petrolatum-minyak mineral atau basis petrolatum lanolin. Basis petrolatum-lanolin kadang-kadang digunakan dalam larutan berair dari bahan aktif dicampurkan dengan basis salep mata. Bagaimanapun tipe basis yang digunakan harus tidak mengiritasi mata, seharusnya dapat mendifusikan zat aktif dari basis dengan menekresikan cairan mata.
Codex Pharmaceutical British memberikan suatu formula untuk sediaan salep mata.
Paraffin lembut 80,0
Paraffin cair 10,0
Lanolin anhidrat 10,0
b. Scoville’s The Art of Compounding; 342
Basis yang cocok untuk salep mata terdapat pada farmakope British :
-Lemak bulu domba 10g
-Vaselin kuning 90g




II.3 Uraian Bahan
1. Tetrasiklin (FI III; 595)
Nama Resmi : Tertracycline Hidrochloridum
Sinnonim :
: Tetrasiklin HCl
RM / BM C22H24N2O8. HCl / 480,91
Pemerian : Serbuk hablur, kuning, rasa pahit, amfoter
Kelarutan : Larut dalam 10 bagian air dan dalam 100 bagian etanol 95% P, Larut dalam air jika dibiarkan akan keruh karena pengendapan tetrasiklin, praktis tidak larut dalam kloroform P, dalam eter P, dalam aseton P, dan dalam larutan alkali hidroksida dan dalam larutan alkali karbonat.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya, jika dalam udara lembab terkena sinar matahari warna menjadi gelap, larutan dengan pH tidak lebih dari 2. Rusak pada pH 7 atau lebih.
Kegunaan : Zat aktif
Stabilitas : Akan terhidrolisis dalam larutan alkali dan menjadi kabur, sebaiknya stabil di udara dan menjadi gelap jika terpapar cahaya yang kuat (Scoville’s : 20)
Incomp : Tetrasiklin mempunyai potensi untuk rusak atau adanya asam kuat. (Scoville’s : 520)
Sterilisasi : Disterilkan dengan radiasi sinar gamma (MD e-book)

2. α-tokoferol (FI III, 606)(Exp; 18)(Lach; 1060)
Nama Resmi : α-tocopherolum
Sinnonim
RM / BM :
: Vitamin E
C29H50O2 / 92,09
Rumus Bangun :


Pemerian : Tidak berbau atau sedikit berbau, tidak berasa atau sedikit berasa cairan, seperti minyak, kuning jernih
Kelarutan : Praktis tiak larut dalam air, larut dlam etanol (95%) P, dan dapat bercampur dengan eter P, dan dengan aseton P, dengan ,minyak nabati, dengan kloroform P
Penyimpanan : Harus disimpan di bawah gas inert dalam wadah kedap udara pada temperature yang sejuk dan kering, terlindung dari cahaya
Kegunaan : Sebagai antioksidan
Kestabilan : Teroksidasi perlahan oleh oksigen atmosfer dan cepat oleh garam ferri dan perak.
Incomp : Dengan peroksida dan ion logam terutama besi, tembaga dan perak. Tokoferol dapat diabsorbsi plastik.
Kesetraan : 1 mg α-tokoferol = 1,49 UI
Konsentrasi : 0,001 – 0,05 %, 0,001 – 0,1 %
Sterilisasi : Distrerilisasi dengan oven pada suhu 150oC selama 1 jam.

3. Klorobutanol (Exp;126)
Nama Resmi : Chlorobuthanol
Sinnonim
RM / BM :
: Klorobutanol
C4H7Cl3O / 177,46
Pemerian : M3nguap, sedikit berwarna ataua kristal putih yang rapuh, bau kamfer.
Kelarutan : Larut bebas dalam kloroform, eter dan minyak menguap, 1 bagian dalam 0,6 ml etanol (95 %) P
Penyimpanan : Serbuk materiil disimpan pada wadah tertutup baik pada temperature 8 – 15oC
Kegunaan : Pengawet
Incomp : Incomp dengan vial plastik, penutup karet, bentonit, Mg trisilikat, polietilen dan polihidroksi etil metoksilat.
Kestabilan : Dalam degradasi larutan berair dikatalisis oleh ion hydrogen, stabil pada pH 3 tetapi berkurang dengan peningkatan pH. Dalam larutan klorobutanol cair 0,5 %, pada temperature kamar hampir saturasi atau jenuh dan mengkristal jika temperature dikurangi.
Sterilisasi : Radiasi sinar γ
Konsentrasi : Sampai 0,5 %
Titik lebur : 95 – 97oC

4. Parafin cair ( FI III; 474)(Exp: 345)
Nama Resmi : Parafinnum liquidum
Sinnonim : Parafin cair
Pemerian : Cairan kental, transparan, tidak berfluoresensi, tidak berwarna, hampir tidak berbau, hampir tidak mempunyai rasa.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95 %) P, larut dalam kloroform P dan dalam eter P.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat,
Kegunaan : Sebagai basis
Kestabilan : Teroksidasi oleh panas dan cahaya dan dapat ditambah pengstabil.
Incomp : Bahan pengoksidasi kuat.
Khasiat : Laksatif
Sterilisasi : Oven pada suhu 150oC selama 1 jam

5. Vaselin kuning (FI III; 633) (Exp; 362)
Nama Resmi : Vaselinum flavum
Sinnonim : Vaselin kuning
Pemerian : Massa lunak, lengket, kuning, bening, sifat ini tetap setelah zat dilebur dan dibiarkan hingga dingin tanpa diaduk, berfluoresensi lemah. Jika dicairkan tidak berbau, hampir tidak berasa.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, dan dalam etanol (95 %) P, larut dalam kloroform P, dalam eter P dan dalam eter minyak tanah, larutan kadang-kadanag teropalesensi lemah
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Sebagai basis
Kestabilan : Kebanyakan masalah stabilitas terjadi karena sejumlah kecil larutan dengan pemaparan cahaya, kotoran ini teroksidasi yang dapat merupah petrolatum dan menciptakan bau yang tidak sedap.
Incomp : Bahan inert yang memiliki beberapa sifat incomp
Jarak lebur : 38,56 – 38,60oC
Sterilisasi : Oven pada suhu 150oC selama 1 jam

6. Lanolin anhidrat (FI III; 61) (Exp; 256)
Nama Resmi : Adeps lanae
Sinnonim : Lanolin anhidrta
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, odourless, tidak berasa
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol, mudah larut dalam kloroform P dan eter P
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya, di tempat sejuk dan kering.
Kegunaan : Sebagai basis
Kestabilan : Dapat mengalami autooksidasi selama penyimpanan untuk menghambat proses ini dapat ditambah BFIT sebagai antioksidan
Incomp : Lanolin dapat mengandung prooksidan yang dapat mengandung bahan aktif.
Sterilisasi : Oven pada suhu 150oC selama 1 jam, salep mata steril yang mengandung lanolin dapat disterilkan dengan cara filtrasi atau disinari dengan radiasi γ.










BAB III
METODE KERJA

III.1 Alat dan Bahan
III.1.1 Alat
Adapun alat-alat yang digunakan adalah batang pengaduk, cawan porselen, lumpang, alu, pinset, sendok tanduk, spatel, dan sudip.
III.1.2 Bahan
Adapun bahan-bahan yang digunakan, aluminium foil, kertas timbang, kloramfenikol, klorobutanol, lanolin anhidrat, parafin cair, vaselin kuning, dan α-tokoferol.
III.2 Perhitungan
1. Perhitungan bahan
Dibuat 3,5 g, dilebihkan 10% = 3,85 g = 3850 mg
• Tetrasiklin HCl =

• α-tokoferol =

• Klorobutanol =

• Basis = 3850 mg –(38,5 +1,925+19,25)mg = 3,79 mg
- Parafin cair = =
- Lanolin anhidrat =
- Vaselin kuning =
2. Perhitungan pengenceran
• Tetrasiklin HCl 38,5 mg
Tetrasiklin HCl 50 mg
Basis steril 50 mg
100 mg


• Klorobutanol 19,25 mg
Klorobutanol 50 mg
Basis steril 100 mg
150 mg


• α-tokoferol 1,925 mg
1 mg -tokoferol = 1,49 UI
1 kapsul natur E = 100 UI
-tokoferol yang dibutuhkan =
Pengenceran =




III.3 Cara Kerja
1). Disiapkan alat dan bahan yang digunakan kemudian disterilkan sesuai dengan metode masing-masing.
2). Alat gelas dicuci dengan deterjen lalu dibebasalkalikan dengan cara direndam dalam HCl 0,1 N panas selama 30 menit lalu dibilas dengan air suling steril, dinginkan lalu disterilkan.
3). Alat karet dibersihkan dan dibebas sulfurkan dengan cara dipanaskan dalam 2% Na2CO3 yang mengandung 0,1% Na Lauril Sulfat, selama 15 menit, didinginkan lalu dibilas dengan air suling steril dan disterilkan.
4). Ruangan disterilkan dengan menyemprotkan alkohol 70%. Basis salep dibuat dengan mencampurkan ketiga basis lalu disterilkan di oven suhu 150oC selama 1 jam dengan filtrasi (menggunakan kain kasa di capor).
a. Dibuat pengenceran tetrasiklin HCl, α-tokoferol, dan klorobutanol dengan menggunakan campuran basis.
5). Tetrasiklin HCl dimikronisasi , lalu dilevigasi dengan sejumlah kecil campuran basis steril.
6). Semua hasil pengenceran dimasukkan dalam lumpang steril lalu dicampur hingga homogen.
7). Ditambahkan seluruh sisa basis lalu digerus hingga homogen.
8). Salep dimasukkan ke dalam tube steril.
9). Semua pengerjaan dilakukan secara aseptis.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil
No. Pengamatan Hasil
1 Wadah ++++
2 Penampilan ++
4 Viskositas ++++
5 Warna ++++
7 Partikulat +

Keterangan:

+ : Tidak baik
++ : Kurang baik
+++ : Baik
++++ : Baik sekali

IV.2 Pembahasan
Pada percobaan ini, dilakukan pembuatan sediaan salep mata tetrasiklin HCl dengan indikasi untuk pengobatan konjungtivis akut (radang pada konjungtiva akibat bakteri seperti Haemophillus influenzae, P. aeruginosa, Staphylococcus, Streptococcus, dsb).
Salep mata merupakan sediaan steril yang dimaksudkan untuk pengobatan mata dimana menggunakan dasar salep yang cocok, dikerjakan secara aseptis, dan tempat kerjanya di iris, konjungtiva, kornea, kelopak mata, dan kelenjar sebaseus. Dibuat dalam bentuk salep mata sebab tempat kerjanya di kelopak mata dan konjungtiva dari mata, sedangkan tetes mata tidak bisa bekerja dikelopak mata.
Viskositas dari salep mata tidak boleh terlalu encer atau terlalu kental. Bila terlalu encer maka pada saat penggunaan dapat mengotori mata pemakai karena dapat mengalir keluar dari mata, sedangkan bila terlalu kental maka pada saat penekanan untuk pemakaian, salepnya sulit keluar dari tube.
Warna dari salep tidak boleh terlalu kuning atau terlalu putih juga jangan terlalu pucat. Maka hendaknya warna salep mengikuti warna dari basis, biasanya berwarna kuning muda.
Salep mata harus bebas dari bahan partikulat yaitu bahan atau zat yang kasar yang bisa merusak permukaan mata. Oleh karena itu, dalam pembuatan, bahan harus betul-betul digerus sampai halus saat dilevigasi dengan basis.
Pada pembuatan salep mata ini digunakan 3 campuran basis yaitu lanolin anhidrat, parafin cair, dan vaselin kuning. Kombinasi 3 basis ini adalah yang paling baik karena dapat membantu cepatnya absorbsi obat ke tempat aksinya.
Selain basis, juga digunakan pengawet klorbutanol. Klorbutanol adalah pengawet yang sukar larut dalam air, sehingga tepat digunakan untuk pengawet pada salep mata yang dasarnya adalah lemak (lipofilik). Selain itu, klorbutanol mempunyai keuntungan yaitu menghambat dengan baik gram positif dan gram negatif termasuk P.aeruginosa dan juga beberapa jamur, mempunyai range yang luas dalam ketercampuran, sedikit atau tidak mengiritasi, dan tidak mengiritasi ketika dimasukkan dalam anterior mata.
Dalam sediaan salep mata yang basisnya berupa lemak sangat perlu ditambahkan zat antioksidan. Karena lemak merupakan senyawa yang sangat mudah teroksidasi. Maka digunakan α-tokoferol sebagai antioksidan. α-tokoferol merupakan bentuk yang paling penting karena mengandung 90% dari tokoferol yang berasal dari hewan dan aktifitas biologisnya besar.
Salep mata tertrasiklin HCl ini dibuat dengan cara melevigasinya dengan sedikit campuran basis yang telah disterilkan terlebih dahulu hingga terbentuk massa yang lembut. Setelah itu dicampur dengan klorobutanol dan α-tokoferol hingga homogen. Terakhir ditambahkan sisa basis dan dihomogenkan.
Setelah massa salep jadi, massa salep tersebut dimasukkan ke dalam wadah yang telah disterilkan terlebih dahulu dengan cara yang telah tertera pada literatur.
Salep yang telah selesai ternyata masih terdapat partikulat yang kasar. Ini terjadi karena proses levigasi yang tidak terlalu baik ketika pengerjaan berlangsung. Tapi, viskositas dari massa salep sudah sangat baik, karena sesuai dengan warna yang diinginkan untuk sediaan salep mata yaitu berwarna kuning.

BAB V
PENUTUP

V.1 Kesimpulan
Dari hasil percobaan maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Viskositas yang dihasilkan dari massa salep sudah sangat baik
2. Warna dari massa salep yaitu berwarna kuning
3. Masih terdapat partikulat kasar
4. Penampilan dan wadahnya sudah baik

V.2 Saran
Sebaiknya dalam laboratorium enkas yang digunakan diperbaiki dan ditambah jumlahnya demi efesiensi pengerjaan ketika praktikum berlangsung.

1 komentar: